30 January 2022, 13:47 WIB

Eks PM Israel Netanyahu Jual Pegasus untuk Kepentingan Diplomatik


Mediaindonesia.com |

ISRAEL telah menggunakan spyware NSO sebagai pilar utama kebijakan diplomatiknya dalam beberapa tahun terakhir. The New York Times melaporkan itu pada Jumat (28/1). Ini membenarkan laporan sebelumnya di media Israel, Haaretz. Laporan itu juga mengungkapkan agen-agen Amerika seperti FBI sedang dalam pembicaraan untuk membeli spyware NSO dan ditawari sistem spyware yang belum pernah dilihat.

Investigasi New York Times mengungkapkan bahwa Arab Saudi, klien terkenal dari spyware Pegasus NSO, diberi otorisasi ulang untuk menggunakan sistem hanya setelah Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menelepon Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat itu. Saudi kehilangan akses ke Pegasus setelah pembunuhan Jamal Khashoggi dan MBS meminta agar Netanyahu campur tangan untuk mengembalikannya. Permintaan itu dipenuhi.

Temuan tersebut mengonfirmasi laporan Haaretz pada 2018 dan 2020 oleh Amos Harel dan Chaim Levinson tentang Israel mendorong NSO untuk menjual spyware-nya ke Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, dan Arab Saudi. Laporan tersebut juga mengonfirmasi temuan Haaretz sebagai bagian dari konsorsium global Project Pegasus penjualan spyware itu memainkan peran kunci dalam diplomasi Netanyahu. Ini ditunjukkan dengan kesepakatan penandatanganan NSO di India, Hungaria, dan Polandia setelah hubungan yang memanas antara negara-negara tersebut dan Israel yang dipimpin Netanyahu.

Juru bicara mantan perdana menteri itu mengatakan kepada Times bahwa klaim tentang Netanyahu menawarkan kepada para pemimpin asing sistem seperti itu sebagai imbalan atas tindakan politik atau lainnya merupakan kebohongan sama sekali.

Dalam kasus Arab Saudi, NYT mengungkapkan bahwa setelah Saudi kehilangan hak mereka untuk menerima ekspor pertahanan dari badan pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas pengawasan penjualan tersebut. Mereka gagal memperoleh lisensi mereka dipulihkan. Putra mahkota melakukan panggilan telepon ke Netanyahu yang menyetujui permintaan tersebut serta mendorong badan pertahanan dan NSO untuk memperbarui akses Riyadh.

Spyware, menurut temuan NYT, menjadi bagian penting dari upaya normalisasi Israel di Teluk dan memainkan peran latar belakang dalam politik diplomatik yang terjadi terkait pembicaraan nuklir dengan Iran. Mengonfirmasi temuan oleh Amitai Ziv, yang dibuat sebagai bagian dari investigasi Project Pegasus, NSO berfungsi sebagai bentuk mata uang diplomatik untuk Netanyahu.

Meskipun Israel tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Arab Saudi dan orang Israel dilarang melakukan bisnis di sana, Haaretz mengungkapkan bahwa dalam upaya mewujudkan hubungan diplomatik, ada fasilitas kesepakatan perpanjangan antara Kerajaan dan Israel dalam sektor spyware. Perusahaan itu tidak sendirian dalam menjual spyware ke Saudi. Ada pula Quadream dan Cellebrite sebagai perusahaan siber lain dari Israel yang menjual spyware di Saudi pada 2019.

Baca juga: Usai Ditelepon, Netanyahu Izinkan Putra Mahkota Saudi Pakai Pegasus

NSO Group telah berada di bawah pengawasan intensif pada tahun ini akibat pengungkapan massal perangkat lunak peretasannya yang dikerahkan terhadap jurnalis dan aktivis di seluruh dunia. NSO masuk daftar hitam oleh Departemen Perdagangan pemerintahaan Biden tahun ini setelah terungkap bahwa alatnya digunakan di Afrika untuk memata-matai pejabat Departemen Luar Negeri AS. Langkah tersebut, NYT mengungkapkan, memicu kemarahan dan kejutan di Israel dan NSO karena tanpa sepengetahuan publik, orang Amerika pada 2019 menunjukkan minat untuk membeli sistem tersebut.

Phantom

Menurut penyelidikan NYT, meskipun ada kekhawatiran atas penggunaan Pegasus, lembaga penegak hukum Amerika telah lama menunjukkan minat untuk membeli spyware. Laporan tersebut mengungkapkan minat telah ditunjukkan di masa lalu oleh CIA, DEA, Secret Service, dan bahkan komando militer AS di Afrika. Semua badan ini mengadakan pembicaraan dengan NSO tentang pembelian spyware, meskipun ada beragam laporan yang mendokumentasikan penyalahgunaannya oleh klien di seluruh dunia.

Menurut penyelidikan, tidak hanya agen AS tersebut saja yang mempertimbangkan untuk membeli Pegasus, FBI mengambil langkah maju pada 2019 dengan mengundang NSO agar memberi mereka demonstrasi kemampuan spyware tersebut. Namun, karena ada kekhawatiran, sistem Pegasus secara teoretis tidak dapat menargetkan ponsel Amerika. Solusi NSO yaitu menawarkan FBI spyware baru yang belum pernah dilihat sebelumnya yang disebut Phantom.

Phantom, prospek yang dilihat oleh NYT, menawarkan kemampuan peretasan tanpa perlu kerja sama dengan jaringan telepon lokal. Phantom bahkan telah menerima izin khusus dari badan pengawas ekspor pertahanan Israel untuk memata-matai nomor Amerika mana pun dengan tujuan menjual sistem tersebut ke Amerika. Menurut brosur tersebut, Phantom dapat mengubah smartphone target menjadi tambang emas intelijen. Amerika juga membayar dan mengatur agar pemerintah Djibouti mendapatkan kesepakatan untuk Pegasus.

Baca juga: Buku Baru Ungkap Israel Hancurkan Wilayah Mughrabi Jerusalem Palestina

Baru minggu ini, pimpinan perusahaan mengundurkan diri setelah kurang dari dua tahun menjabat di tengah laporan bahwa Pegasus digunakan oleh polisi Israel dan bukti baru muncul bahwa seorang pejabat senior Human Rights Watch di Beirut menjadi sasaran spyware. Harian keuangan Israel melaporkan minggu lalu bahwa polisi telah menggunakan spyware NSO dalam daftar target sejak 2013. Daftar tersebut mencakup para pemimpin protes dan politisi. Ini indikasi pertama bahwa perangkat lunak itu digunakan untuk melawan orang Israel dengan penyelidikan yang hanya diawasi oleh polisi dan tanpa surat perintah atau perintah pengadilan.

BERITA TERKAIT