29 January 2022, 17:13 WIB

Hampir 40% Masyarakat Tigray Alami Kekurangan Makanan Ekstrem


 Atikah Ishmah Winahyu |

HAMPIR 40% masyarakat di daerah Tigray, wilayah utara Ethiopia, menderita kekurangan makanan yang ekstrem akibat blokade bantuan makanan di wilayah yang dilanda perang itu.

Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan sejumlah kelompok kemanusiaan sulit masuk ke wilayah Tigray. Bahkan tim bantuan menghadapi persoalan bahan bakar untuk kendaraan yang digunakan membawa bantuan kemanusiaan. 

Untuk sampai ke wilayah Tigray bagi para pengungsi dan korban perang saudara, tim kemanusiaan terpaksa berjalan kaki.  .

Pertempuran baru antara militer pemerintah dan kelompok pemberontak Tigrya di Ethiopia utara, masih berlangsung. Pertikaian bersenjata telah berlangsung hampir 15 bulan.  

WFP mengatakan dengan sulitnya akses bantuan ke wilayah konflik di Tigray, ratusan ribu orang terancam mengalami kelaparan.

Data baru mengungkapkan bahwa 4,6 juta orang di Tigray atau 83% dari populasi sedang menghadapi rawan pangan. Bahkan dua juta orang dalam kondisi kelaparan.

Baca juga: PBB Laporkan Malanutrisi di Tigray Ethiopia

"Keluarga menghabiskan segala cara untuk memberi makan diri mereka sendiri, dengan tiga perempat dari populasi menggunakan strategi ekstrem untuk bertahan hidup," kata WFP dalam sebuah pernyataan.

"Diet semakin dimiskinkan karena makanan menjadi tidak tersedia dan keluarga bergantung hampir secara eksklusif pada sereal sambil membatasi ukuran porsi dan jumlah makanan yang mereka makan setiap hari untuk membuat makanan apa pun yang tersedia semakin panjang," tambahnya.

WFP juga menyuarakan kepada masyatakat internasional  tentang meningkatnya kelaparan di wilayah tetangga Amhara dan Afar itu. Terlebih lagi, pertempuran antara militer Ethiopia dan kelompok separatis Tigray masih berlangsung.

"WFP melakukan semua yang bisa dilakukan untuk memastikan konvoi kami dengan makanan dan obat-obatan berhasil melewati garis depan," kata direktur WFP Afrika Timur, Michael Dunford.

"Tetapi jika permusuhan terus berlanjut, kami membutuhkan semua pihak yang berkonflik untuk menyetujui jeda kemanusiaan dan secara resmi menyetujui koridor transportasi, sehingga pasokan dapat mencapai jutaan orang yang terkepung kelaparan," tambahnya.

Pertempuran belum mereda

Pertempuran pecah di Tigray pada November 2020 setelah Perdana Menteri (PM) Ethiopia Abiy Ahmed mengirim pasukan untuk mengatasi perlawan pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

TPLF adalah partai yang pernah berkuasa di kawasan Tigray. Sejauh ini, pasukan TPLF juga tak menyerah dan terus menyerang kamp-kamp tentara pemerintah Ethiopia. (Aiw/France24/OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT