21 January 2022, 09:41 WIB

Pemimpin Belarus Tetapkan Referendum Konstitusi pada 27 Februari


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Belarus Alexander Lukashenko, pada Kamis (20/10, mengatakan pemungutan suara atau referendum reformasi konstitusi yang dijanjikannya akan diadakan pada 27 Februari 2022 setelah terjadi gelombang protes terhadap pemerintahannya.

Lukashenko, yang telah berkuasa selama hampir 30 tahun, pertama kali melontarkan kemungkinan perubahan konstitusi setelah pemilihan presiden pada Agustus 2020 telah memicu demonstrasi bersejarah yang disambut dengan tindakan keras brutal.

Dia mengklaim masa jabatan keenam dalam pemungutan suara itu dan memenjarakan tokoh-tokoh oposisi terkemuka, dengan saingan utamanya Svetlana Tikhanovskaya melarikan diri ke Lithuania.

Amandemen tersebut akan mengembalikan batas masa jabatan presiden - yang sebelumnya dibatalkan oleh Lukashenko - menjadi dua masa jabatan lima tahun. Namun konstitusi yang diamandemen hanya akan berlaku untuk presiden terpilih berikutnya.

Jika Lukashenko mengajukan dirinya sebagai kandidat untuk pemilu pada tahun 2025, dia mungkin akan tetap berkuasa selama sepuluh tahun lagi.

Perubahan konstitusi yang diusulkan juga memberikan kekebalan kepada mantan pemimpin atas kejahatan yang dilakukan selama masa jabatan mereka dan akan membuat Belarus legal untuk menjadi tuan rumah senjata nuklir di wilayahnya.

Kantor Tikhanovskaya di Lithuania mengecam pemungutan suara itu pada Kamis (20/1) dengan mengatakan bahwa tindakan keras terhadap suara-suara yang berbeda sejak pemilihan 2020 membuat diskusi nyata tentang usulan itu menjadi tidak mungkin.

"Tidak ada peluang untuk diskusi bebas tentang amandemen yang diusulkan, komisi pemilihan tidak dibentuk secara transparan, dan pemantauan independen terhadap proses pemungutan suara tidak mungkin," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Satu-satunya kemungkinan kampanye pemilihan yang memenuhi kepentingan warga Belarus adalah pemilihan presiden baru yang demokratis menurut standar internasional dan hanya setelah pembebasan semua tahanan politik," tambahnya.

Kelompok hak asasi Viasna mengatakan bahwa hampir 1.000 orang di Belarus telah dipenjara karena alasan politik dan bulan lalu Lukashenko memenjarakan seorang blogger YouTube berusia 43 tahun yang merupakan suami Tikhanovskaya, Sergai Tikhanovsky, selama 18 tahun.

Presiden Vladimir Putin pada tahun 2020 mengadakan pemungutan suara tentang perubahan konstitusi yang memungkinkan dia untuk tetap berkuasa hingga tahun 2036. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT