18 January 2022, 21:14 WIB

Polisi Israel Tangkap Puluhan Warga Palestina pada Dini Hari


Mediaindonesia.com | Internasional

PIHAK berwenang Israel menangkap puluhan warga Palestina Israel di wilayah Negev, selatan negara itu. Hal tersebut terjadi ketika protes terus berlanjut terhadap rencana penghutanan oleh Dana Nasional Yahudi (JNF) di daerah tersebut.

Pada dini hari Selasa (18/1), pasukan polisi Israel menyerbu kota dan desa al-Zarnouq, Abu Talool, Khashm al-Zina, dan Tel al-Sabe. Polisi menahan hampir 41 warga Palestina. Yang termuda di antaranya baru berusia 10 tahun.

Media lokal melaporkan seperti dilansir Middle East Eye bahwa mereka yang ditangkap oleh polisi Israel pada Selasa dituduh terlibat dalam protes terhadap rencana JNF untuk menanam pohon di Negev. Proyek itu dilihat orang Palestina sebagai cara untuk mengusir mereka dari tanah leluhur.

Pekan lalu, warga Palestina Israel di Negev berhadapan dengan polisi Israel dan pekerja JNF. Orang-orang Palestina mengolah tanah dan tanaman mereka di desa al-Atrash dan Saawa, salah satu dari enam desa Palestina di daerah al-Naqe.

JNF meluncurkan tahap pertama dari rencana penghutanannya di hampir 300 dunam di daerah al-Naqe pada Desember. Namun, pemerintah Israel menekan JNF untuk menghentikan rencananya setelah empat anggota Knesset Arab yang mewakili Palestina di Negev memperingatkan bahwa mereka tidak akan memberikan suara untuk mendukung undang-undang masa depan yang diusulkan oleh pemerintah Perdana Menteri Naftali Bennett.

Sejak itu protes terus berkobar di Negev. Ini bersama dengan protes solidaritas oleh warga Palestina di kota-kota Haifa, Umm al-Fahm, dan Nazareth.

Komite Pengarah Tinggi untuk Orang Arab di Negev (HSCAN) telah mengumumkan bahwa protes akan berlanjut setiap hari di luar pengadilan Israel di kota Beer Sheva, tempat para tahanan diadili, untuk menyerukan pembebasan segera mereka. Ini menggambarkan tindakan keras polisi Israel terhadap protes sebagai kebiadaban dan menyerukan penyelidikan atas peristiwa tersebut.

Mereka mengutuk penggunaan kekuatan, gas air mata, dan peluru karet oleh polisi Israel kepada para pengunjuk rasa serta melakukan penangkapan sewenang-wenang terhadap mereka. "Kami menyerukan penyelidikan atas perilaku agresif dan rasis polisi," kata HSCAN.

Baca juga: Badan PBB untuk Pengungsi Palestina Butuh Rp23 Triliun

Ada hampir 300.000 warga Palestina Israel yang tinggal di wilayah Negev yang sebagian besar berasal dari klan Badui. Sekitar 100,00 dari mereka saat ini tinggal di 35 desa tidak dikenal yang dianggap ilegal oleh Israel. Pemerintahnya menolak menyediakan listrik, air, pendidikan, kesehatan, dan transportasi bagi mereka. (OL-14)

BERITA TERKAIT