13 January 2022, 15:50 WIB

Yahudi Ultraortodoks Israel Diguncang Tuduhan Pelecehan Seksual terhadap Tokohnya


Mediaindonesia.com |

KOMUNITAS Yahudi ultraortodoks Israel diguncang oleh tuduhan pelecehan seksual terhadap beberapa tokoh terkemukanya. Karenanya, seruan mulai bergema di seluruh masyarakat yang sangat taat dan tertutup itu.

Lo Tishtok--bahasa Ibrani untuk kamu tidak akan diam--menjadi frasa yang mendapatkan momentum di antara orang-orang Yahudi ultraortodoks atau haredim yang dipaksa untuk mengungkap kejahatan serius, termasuk pelecehan seksual terhadap anak-anak, terhadap beberapa ikon budaya mereka.

Pada Desember, penulis anak-anak terkemuka dan Rabi Chaim Walder melakukan bunuh diri setelah surat kabar Haaretz menerbitkan berita yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual terhadap hampir dua lusin orang, termasuk anak-anak. Tuduhan itu telah dia bantah.

Haaretz pada Maret melaporkan bahwa Yehuda Meshi-Zahav, pendiri organisasi tanggap darurat Zaka dan pemenang Penghargaan Israel sebagai penghargaan publik tertinggi di negara itu, telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak laki-laki, anak perempuan, dan perempuan dewasa. Meshi-Zahav, yang mencela klaim itu sebagai kebohongan, juga mencoba gantung diri pada April sebelum tuduhan baru pelanggaran seksual muncul di N12 Channel.

Seorang juru bicara polisi Israel mengatakan kepada AFP bahwa ada penyelidikan terbuka atas tuduhan terhadap Meshi-Zahav. Akan tetapi polisi tidak memberikan komentar tentang status penyelidikan kriminal terhadap Walder pada saat kematiannya.

Baca juga: Jerman Identifikasi 439 Tersangka Paedofil dalam Pornografi Anak

Avigayil Heilbronn, yang mendirikan organisasi Lo Tishtok untuk mendukung para korban pelecehan seksual haredim, mengatakan komunitas ultraortodoks telah terguncang. Tuduhan terhadap Walder menandai pukulan luar biasa, kata ibu dua anak berusia 33 tahun yang bercerai yang menggambarkan dirinya sebagai ortodoks modern tersebut. Jika ikon budaya seperti Walder bisa menjadi predator, haredim terpaksa mempertimbangkan mereka bisa memercayai siapa pun atau tidak, kata Heilbronn kepada AFP.

Komunitas

Komunitas ultra-Ortodoks membentuk sekitar 12% dari 9,3 juta penduduk Israel. Haredim bukanlah kelompok yang homogen, tetapi masing-masing mengaku hidup sesuai dengan hukum Yahudi. Ini sering kali menimbulkan ketegangan dengan masyarakat Israel arus utama.

Pengungkapan pelanggaran terbaru muncul bulan ini, ketika surat kabar Yediot Ahronot menerbitkan klaim bahwa pembawa acara radio ultraortodoks terkemuka telah menyerang tiga wanita, termasuk anak di bawah umur. 

Adiel Bar Shaul, seorang ultraortodoks berusia 43 tahun dari kota Bnei Brak, dekat Tel Aviv, menceritakan pengalamannya dilecehkan sebagai seorang anak tak lama setelah laporan itu keluar. Shaul mengatakan dia diperkosa beberapa kali ketika dia berusia 10 tahun oleh seorang kenalan keluarga dekat yang juga ultraortodoks. 

Baca juga: Israel Cari Kompromi usai Kerusuhan Badui terkait Penanaman Pohon

Pemerkosaan pertama terjadi ketika keluarga Shaul menjamu penyerangnya di Shabbat, periode suci istirahat dan pemujaan bagi haredim, katanya kepada AFP. "Dia mulai memberi saya stiker. Kemudian, sebagai gantinya saya meletakkan tangan saya di celananya," kata Shaul yang hampir sepanjang hidupnya diam sebelum go public beberapa tahun lalu.

"Saya masih kecil. Saya tidak mengerti. Saya sendirian, saya sangat malu dan merasa bersalah," kata Shaul, yang kini bekerja dengan korban kekerasan seksual.

Korban

Josiane Paris, seorang sukarelawan di Pusat Krisis Tahel Jerusalem, yang mendukung anak-anak dan wanita dalam komunitas agama Yahudi, mengatakan bahwa para korban sering kali tidak berbicara. "Mereka takut dengan yang akan dikatakan orang dan tetangga di sekolah atau sinagoga," katanya kepada AFP.

Ketika pusat tersebut membuka jalur krisisnya tiga dekade lalu untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, dan pemerkosaan, panggilan telepon relatif jarang. "Hari ini kami menerima sekitar 500 panggilan sebulan," kata Paris. Ini menjadi bukti gerakan #MeToo berdampak pada komunitas agama Israel.

Relawan Myriam Merzbach mengatakan beberapa wanita yang disebut hanya diam. "Kami merasakan kesusahan. Ada yang marah, menangis. Tugas kami mendukung mereka, menyemangati mereka, dan mencari solusi."

Penyangkalan

Kepala Rabi Israel David Lau menghadapi kritik pedas karena mengunjungi rumah tempat kerabat Walder berkabung. Pemimpin redaksi surat kabar Jerusalem Post, Yaakov Katz, menyerukan agar Lau dipecat karena kasus kebangkrutan moral.

Setelah kunjungan itu, Lau mengeluarkan pernyataan yang mengatakan hatinya tertuju pada para korban pelecehan seksual. Tetapi bagi Yair Ettinger, seorang ahli haredim di lembaga think-tank Institut Demokrasi Israel dan seorang jurnalis di lembaga penyiaran publik Kan, pendirian kerabian Israel tetap dalam penyangkalan.

Baca juga: Amerika Desak Penyelidikan Warganya yang Tewas setelah Ditangkap Israel

"Haredim merupakan bagian dari masyarakat idealis yang berjuang untuk melihat dirinya sendiri di cermin," kata Ettinger kepada AFP. Namun sekarang ada kesadaran nyata akan masalah ini, terutama setelah beberapa selebritas haredim dipermalukan. "Zaman kepolosan sudah berakhir," tandasnya. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT