12 January 2022, 07:15 WIB

WHO Sebut Anggap Covid-19 Varian Omikron Enteng Adalah Kesalahan


Basuki Eka Purnama | Internasional

COVID-19 varian Omikron membunuh banyak orang di berbagai penjuru dunia dan tidak boleh dipandang enteng. Hal itu ditegaskan organisasi kesehatan dunia (WHO), Kamis (6/1).

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan banyaknya jumlah orang yang tertular covid-19 varian Omikron menyebabkan rumah sakit di berbagai penjuru dunia kewalahan.

"Meski covid-19 varian Omikron tampaknya tidak separah varian Delta, terutama bagi mereka yang sudah divaksin, varian ini tidak boleh dianggap enteng," ujar Tedros.

Baca juga: WHO Sebut Covid-19 Varian Omikron Cepat Menular karena Banyak Faktor

"Seperti varian sebelumnya, Omikron juga membuat orang dirawat di rumah sakit dan menyebabkan banyak orang tewas."

"Bahkan kasus ini bak tsunami yang tinggi dan cepat sehingga membuat sistem kesehatan di dunia kewalahan," lanjutnya.

Hampir 9,5 juta kasus baru covid-19 dilaporkan ke WHO pada pekan lalu, naik 71% dibandingkan pekan seleumnya.

Namun, ungkap Tedros, jumlah itu lebih rendah dari kenyataan mengingat banyaknya hasil uji positif tidak tercatat selama periode libur Natal dan Tahun Baru. 

Tedors kemudian menggunakan pidato pertamanya di 2022 untuk kembali mengecam negara kaya yang menimbun vaksin covid-19 pada tahun lalu. Dia menyebut hal itu sebagai penyebab munculnya varian baru covid-19.

Karenanya, dia mendesak dunia untuk lebih adil dalam membagikan vaksin covid-19 untuk segera mengakhiri pandemi yang telah berlangsung selama 2 tahun.

Tedros menargetkan semua negara di dunia setidaknya telah memvaksinasi 10% populasi mereka pada September 2021 dan 40% pada akhir Desember.

Sebanyak 92 dari 194 anggota WHO gagal menenuhi target itu dengan 36 negara bahkan belum memvaksin 10% populasi mereka karena tidak mendapatkan akses ke vaksin covid-19.

"Kesenjangan vaksin adalah hal yang membunuh banyak orang serta memperlambat kebangkitan ekonomi dunia," kata Tedros.

"Dosis booster demi dosis booster di negara kaya akan percuma jika jutaan orang masih belum divaksin," lanjutnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT