10 January 2022, 10:11 WIB

Mantan PM: Presiden Kazakhstan Harus Harus Netralisir Faksi Nazarbayev


 Atikah Ishmah Winahyu |

MANTAN Perdana Menteri (PM) Kazakhstan, Akezhan Kazhegeldin, menilai Presiden Kazakhstan harus bergerak cepat untuk mengonsolidasikan cengkeramannya setelah memutuskan hubungan dengan pemimpin pendahulunya yang kuat

Pekan lalu negara pecahan Uni Soviet itu dilanda kekerasan paling mematikan dalam 30 tahun kemerdekaannya dari Moskow.

Saat pengunjuk rasa membakar gedung-gedung di kota terbesar Almaty pada Rabu (5/1) lalu, Presiden Kassym-Jomart Tokayev mencopot mantan pemimpin Nursultan Nazarbayev dari jabatannya sebagai kepala Dewan Keamanan yang kuat,

Seajuh ini, peran Nazarbayev, 81, terus memengaruhi kekuasaan meskipun dia telah menyerahkan kursi kepresidenan pada tahun 2019.

Dengan 164 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 6.000 orang ditahan sebagai bagian dari apa yang disebut Tokayev sebagai operasi kontra-teroris, pembersihan aparat keamanan sekarang sedang berlangsung di negara penghasil minyak dan uranium di Asia Tengah itu.

Akezhan Kazhegeldin mengatakan bahwa Tokayev, yang telah memerintah sejak 2019 di bawah bayang-bayang pria yang mendominasi negara itu selama tiga dekade sebelumnya, perlu menghilangkan keraguan tentang siapa yang benar-benar berkuasa.

"Saya pikir banyak orang di jejaring sosial, kritikus, terus mengatakan dia adalah calon Nazarbayev, bahwa Nazarbayev berdiri di belakangnya dan memanipulasi dia," katanya pada Minggu (9/1).

"Sekarang dia memiliki kekuasaan eksekutif formal yang lengkap, pertanyaannya adalah bagaimana dia akan menyebarkannya. Dia perlu mengambil alih komando,” imbuhnya.

Kazhegeldin menjabat sebagai perdana menteri di bawah Nazarbayev pada 1990-an, ketika Tokayev menjadi menteri luar negeri

Tetapi Nazabayev mengundurkan diri karena kekhawatiran tentang korupsi dan sekarang tinggal di pengasingan di Inggris.

Dia mendesak Tokayev untuk menyelidiki dengan cepat, membawa mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan ke pengadilan, dan mendengarkan tuntutan rakyat untuk reformasi.

"Jika dia melakukannya dalam waktu singkat, dia dapat mengandalkan dukungan warga dalam pemilihan. Jika tidak, orang akan menyalahkan semua masalah dan semua yang terjadi baru-baru ini padanya,” tuturnya.

Nazarbayev, mantan bos Partai Komunis, mengumpulkan kekayaan besar selama beberapa dekade berkuasa, memegang kekuasaan melalui apa yang digambarkan Kazhegeldin sebagai sistem klan.

Dia mengatakan faksi Nazarbayev yang sakit hati akan berusaha untuk bergerak kembali jika diberi kesempatan.

"Orang-orang yang baru saja dikalahkan sangat kaya. Mereka memiliki modal besar di luar negeri, termasuk di Inggris," katanya.

"Uang ini harus dikembalikan ke negara dan digunakan untuk mengembangkan ekonomi. Jika ini tidak dilakukan, orang-orang ini akan menggunakan uang itu untuk mengacaukan situasi di negara ini,” tambahnya.

Nazarbayev tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar tetapi juru bicaranya mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu (9/1) dalam upaya nyata untuk menghilangkan kesan keretakan antara dia dan Tokayev.

Dia mengatakan mantan presiden telah memilih untuk menyerahkan jabatan dewan keamanannya kepada Tokayev untuk membantu meredakan krisis, dan kedua pria itu selalu di sisi barikade yang sama. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT