07 January 2022, 14:46 WIB

Saudi Jawab Tudingan Hizbullah bahwa Raja Salman Teroris


Mediaindonesia.com | Internasional

DUTA Besar Arab Saudi untuk Beirut Libanon mengatakan bahwa Hizbullah merupakan ancaman bagi keamanan Arab. Ini disampaikannya setelah pemimpin gerakan Libanon yang didukung Iran tersebut mencap Raja Salman sebagai teroris.

Adu kecaman terbaru itu menyusul krisis antara Libanon dan negara-negara Teluk Arab atas perang di Yaman dan tuduhan Saudi bahwa Hizbullah ikut campur dalam konflik tersebut. "Riyadh berharap partai politik akan memprioritaskan kepentingan tertinggi Libanon dan mengakhiri hegemoni teroris Hizbullah atas setiap aspek negara," kata duta besar C dalam suatu pernyataan kepada AFP, Kamis (6/1).

"Aktivitas teroris Hizbullah dan perilaku militer regional mengancam keamanan nasional Arab," tambahnya. Pernyataan Bukhari muncul setelah Hassan Nasrallah, pemimpin gerakan Syiah, menggambarkan Raja Salman sebagai teroris dan menuduh Arab Saudi mengekspor ekstremisme Islam dalam pidato yang disiarkan televisi awal pekan ini.

Tuduhan telah muncul di antara kedua belah pihak sejak koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi untuk menopang pemerintah Yaman melawan pemberontak yang didukung Iran pada 2015. Konflik Yaman telah menelan ratusan ribu nyawa menurut PBB.

Bulan lalu, Hizbullah menolak klaim Riyadh bahwa pihaknya membantu serangan oleh pemberontak Huthi Yaman. Pada akhir Oktober, Riyadh menangguhkan hubungan diplomatik dengan Libanon setelah penayangan pernyataan menteri informasi Libanon saat itu yang mengkritik intervensi militer di Yaman.

Baca juga: Hizbullah Tuding Raja Saudi Teroris karena Ekspor Ideologi ISIS

Menteri Luar Negeri Arab Saudi kemudian mengatakan bahwa dominasi Hizbullah di Libanon, dan bukan hanya komentar menteri, telah mendorong kerajaan Sunni itu untuk memutuskan hubungan. Sejak intervensi koalisi di Yaman, Arab Saudi secara teratur menuduh Iran memasok senjata kepada Huthi dan Hizbullah melatih para pemberontak.

Teheran membantah tuduhan itu. Hizbullah sebelumnya membantah mengirim pejuang atau senjata ke Yaman. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT