03 December 2021, 09:58 WIB

AS Tidak Yakin akan Kesepakatan Nuklir Iran


Atikah Ishmah Winahyu |

AMERIKA Serikat mengungkapkan ketidakoptimisannya terhadap kemungkinan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia, meski Teheran telah mengajukan rancangan proposal menyusul dimulainya kembali pembicaraan di Wina.

"Kita akan tahu dengan sangat, sangat cepat, saya pikir dalam satu atau dua hari ke depan, apakah Iran serius atau tidak," kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken kepada wartawan di Stockholm di sela-sela pertemuan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) pada Kamis (2/12).

Baca juga: Iran: Kesepakatan Nuklir Tergantung Niat Baik Pihak Barat

"Dalam waktu dekat, sekitar hari berikutnya, kami akan berada dalam posisi untuk menilai apakah Iran sekarang benar-benar berniat untuk terlibat dengan itikad baik,” tambahnya.

Tetapi dia memperingatkan, "Saya harus memberi tahu Anda, langkah baru-baru ini, retorika baru-baru ini, jangan memberi kami banyak alasan untuk optimis."

Dalam panggilan telepon dengan Blinken pada hari Kamis, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett telah menyerukan penghentian pembicaraan, yang dilanjutkan pada hari Senin. Blinken menolak berkomentar langsung atas permintaan tersebut.

"Tetapi meskipun waktunya sudah sangat larut, belum terlambat bagi Iran untuk berbalik arah," kata Blinken.

"Apa yang tidak bisa dilakukan Iran adalah mempertahankan status quo membangun program nuklir mereka sambil menyeret kaki mereka dalam pembicaraan. Itu tidak akan terjadi.”

"Itu juga bukan pandangan kami sendiri. Sangat jelas pandangan mitra Eropa kami. Saya harus mengatakan bahwa saya juga melakukan percakapan yang baik dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.”

"Saya pikir Rusia berbagi perspektif dasar kami tentang ini,” imbuhnya.

Perjanjian 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan atau JCPOA, menawarkan Iran pencabutan sanksi ekonomi sebagai imbalan atas pembatasan ketat pada kegiatan nuklirnya.

Tujuannya adalah untuk membuat Iran hampir tidak mungkin untuk membuat bom atom, sementara di sisi lain memungkinkannya untuk mengejar program nuklir sipil. 

Tetapi kesepakatan itu mulai terurai pada 2018 ketika presiden AS saat itu Donald Trump menarik diri dan mulai menjatuhkan sanksi pada republik Islam itu.

Pada gilirannya, Iran, yang menyangkal ingin memperoleh persenjataan nuklir, secara bertahap meninggalkan komitmennya sejak 2019.

Sampai ke Barat

Presiden AS Joe Biden mengatakan dia bersedia untuk kembali ke kesepakatan selama Iran juga melanjutkan persyaratan aslinya.

Iran mengatakan pada hari Kamis bahwa pihaknya telah menyerahkan dua rancangan proposal kepada kekuatan Eropa untuk mencoba menghidupkan kembali JCPOA.

Ketua perunding Ali Bagheri mengatakan kepada televisi pemerintah Iran bahwa proposal yang diajukan pada hari Rabu itu menyangkut dua masalah utama yang dihadapi pakta tersebut yakni pencabutan sanksi dan komitmen nuklir Iran.

"Dokumen pertama merangkum sudut pandang republik Islam itu tentang pencabutan sanksi, sedangkan yang kedua adalah tentang tindakan nuklir Iran," kata Bagheri kepada IRIB TV.

"Sekarang pihak lain harus memeriksa dokumen-dokumen ini dan mempersiapkan diri untuk mengadakan negosiasi dengan Iran berdasarkan dokumen-dokumen ini," terangnya.

Bagheri, menggemakan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian, mengatakan Iran berada di Wina untuk melanjutkan pembicaraan tetapi mengatakan itu terserah Barat.

"Kami telah mengatakan kepada pihak lain bahwa kami berada di Wina untuk mengejar pembicaraan. Jika mereka siap untuk melakukan pembicaraan, kami setuju untuk mengejar mereka," katanya kepada wartawan di Wina.

Dia mengatakan jadwal untuk dimulainya kembali negosiasi akan ditetapkan pada Kamis. (Aiw/Straitstimes/OL-6)

BERITA TERKAIT