02 December 2021, 20:37 WIB

Afrika: Jangan Panik Tetap Tenang Hadapi Omicron


Mediaindonesia.com | Internasional

BADAN pengawas kesehatan Uni Afrika pada Kamis meminta semua pihak untuk tenang atas kehadiran omicron, varian covid-19 baru yang sangat bermutasi dan mendorong banyak pemerintah untuk memberlakukan pembatasan baru.

Varian baru ini pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) oleh Afrika Selatan seminggu yang lalu. Omicron dengan cepat muncul di seluruh benua, memperdalam ketakutan terhadap gelombang infeksi mematikan lain, dan menandakan bahwa pertempuran hampir dua tahun melawan pandemi belum selesai.

Namun, Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), John Nkengasong, mendesak untuk bersikap tenang. "Kami sangat prihatin tetapi tidak khawatir bahwa situasinya tidak dapat dikelola," katanya dalam konferensi pers.

"Tidak perlu panik. Kami bukannya tak berdaya."

Diumumkan seminggu yang lalu, varian baru telah melihat beberapa pemerintah Eropa dengan cepat memperkenalkan kembali tindakan keras termasuk wajib mengenakan masker dan menjaga jarak sosial. Pembatasan perjalanan, sebagian besar menargetkan Afrika selatan, juga mulai berlaku.

CDC Afrika mengatakan telah mempersiapkan dalam waktu lama untuk kemungkinan varian baru dan ditempatkan dengan baik untuk menahan lonjakan kasus. Varian omicron telah dilaporkan di empat negara Afrika termasuk Afrika Selatan, Ghana, Nigeria, dan Botswana. 

"Ini akan menjadi gelombang keempat yang kita hadapi sebagai sebuah benua," kata Nkengasong. "Kami tahu cara mengerahkan responden dengan cepat. Kami tahu cara memberikan intervensi yang diperlukan," katanya, seraya menambahkan bahwa vaksin juga mengalir dengan sangat mantap ke benua itu.

Namun, penyerapan vaksin di Afrika, benua berpenduduk hampir 1,2 miliar orang, masih rendah. Hanya 7% dari populasi yang sepenuhnya diinokulasi.

Kampanye imunisasi mengalami awal yang lambat karena akses yang buruk ke vaksin. Di beberapa negara keragu-raguan seputar vaksin covid-19 tersebar luas.

Afrika membutuhkan sekitar 1,5 miliar dosis vaksin untuk mengimunisasi 60% penduduknya dan mencapai beberapa tingkat kekebalan kelompok. Sejauh ini, benua tersebut telah menerima lebih dari 400 juta dosis.

Baca juga: Irlandia Laporkan Kasus Pertama Varian Omicron

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan WHO pada Oktober mengkritik peluncuran suntikan booster oleh negara-negara kaya. Alasannya, ini menghambat akses negara-negara miskin ke vaksin. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT