02 December 2021, 16:05 WIB

Pendiri Media Apple Daily Hong Kong Raih Penghargaan Golden Pen of Freedom


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

TAIPAN media Jimmy Lai Chee-ying dan jurnalis dari Apple Daily Hong Kong dianugerahi penghargaan tertinggi Asosiasi Penerbit Berita Dunia (Wan-Ifra) pada Rabu (1/12) atas pengorbanan mereka demi kebebasan pers.

Lai, 72, dipenjara karena perannya dalam mengorganisir dan berpartisipasi dalam protes pro-demokrasi yang mengguncang Hong Kong pada 2019.

Apple Daily, surat kabar berbahasa Mandarin populer yang ia dirikan, terpaksa ditutup pada Juni setelah pihak berwenang membekukan asetnya dan menangkap eksekutif seniornya di bawah undang-undang keamanan nasional.

Presiden Forum Editor Dunia Warren Fernandez, saat mengumumkan penghargaan secara virtual di Kongres Media Berita Dunia, mengatakan bahwa penghargaan 'Pena Emas' menyoroti ketakutan dan tantangan para jurnalis di Hong Kong, kawasan dan dunia dalam menghadapi pembatasan yang semakin ketat pada kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan mereka secara kredibel dan mandiri.

"Jimmy Lai telah membayar harga yang mahal untuk kepercayaannya pada demokrasi. Semangat yang diwujudkan Apple Daily harus dibiarkan hidup,” kata Ketua dewan kebebasan media Wan-Ifra, Victoria Svanberg.

Editor dari seluruh dunia bergabung dalam video pernyataan yang mengungkapkan solidaritas dengan Lai, salah satu tokoh terkemuka di kubu pro-demokrasi Hong Kong, dan rekan-rekannya di Apple Daily.

Lai menghadapi serangkaian dakwaan di bawah undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan Beijing di Hong Kong tahun lalu sebagai tanggapan atas protes besar-besaran dan seringkali disertai kekerasan pada 2019, termasuk berkolusi dengan pasukan asing.

Beijing mengatakan undang-undang itu diperlukan untuk memulihkan stabilitas, tetapi para pengkritiknya mengatakan undang-undang itu membatasi kebebasan kota.

Grup media Next Digital miliknya, yang merupakan penerbit Apple Daily, juga terpaksa ditutup awal tahun ini setelah berada di bawah penyelidikan keamanan nasional.

The Golden Pen of Freedom adalah penghargaan tahunan Wan-Ifra yang mengakui individu atau organisasi yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam membela dan mempromosikan kebebasan pers.

Pemenang penghargaan Pena Emas sebelumnya termasuk mendiang jurnalis Arab Saudi Jamal Kashoggi, yang pada 2018 dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Selain Khasoggi, tercatat jurnalis Filipina Maria Ressa, yang merupakan kepala eksekutif portal berita Rappler yang dikenal dengan pengawasan ketat terhadap Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan jurnalis investigasi Rusia Dmitry Muratov, yang merupakan pemimpin redaksi Novaya Gazeta.

Ressa dan Muratov juga bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT