30 November 2021, 09:37 WIB

Biden Minta Masyarakat Tidak Panik dengan Kemunculan Varian Omicron


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat mendesak warga AS untuk mendapatkan vaksin covid-19 di tengah kekhawatiran global atas varian baru virus korona, Omicron. Biden mengatakan pejabat tinggi kesehatan AS sedang berkonsultasi dengan pembuat vaksin terkemuka dan mempersiapkan kemungkinan pembaruan untuk menjelaskan mutasi Omicron.

Tetapi dia menekankan bahwa AS berada dalam posisi yang baik untuk mengendalikan potensi penyebaran Omicron tanpa harus menerapkan penguncian atau lebih banyak larangan perjalanan untuk saat ini, di luar pembatasan yang telah diberlakukan di delapan negara Afrika bagian selatan.

"Varian ini menjadi perhatian, bukan penyebab panik," katanya dalam sambutan di Gedung Putih pada Senin (29/11).

“Jika Anda sudah divaksinasi, tetapi masih khawatir dengan varian baru, dapatkan (vaksin) booster Anda. Jika Anda belum divaksinasi, dapatkan suntikan itu. Dapatkan dosis pertama,” tambahnya.

Biden menambahkan bahwa kepala penasihat medisnya, Anthony Fauci, menduga vaksin saat ini bekerja melawan varian baru, dengan booster yang meningkatkan perlindungan. “Kami akan melawan varian ini dengan tindakan ilmiah dan berpengetahuan serta kecepatan, bukan kekacauan dan kebingungan,” tuturnya.

AS awal bulan ini memperluas rekomendasinya untuk pemberian suntikan booster bagi semua orang dewasa, tetapi diperkirakan 47 juta orang dewasa AS belum divaksinasi, menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Larangan perjalanan ke AS dari Afrika Selatan dan tujuh negara Afrika lainnya mulai berlaku pada hari Senin. Negara-negara di seluruh dunia juga telah memberlakukan pembatasan perjalanan selama beberapa hari terakhir di tengah kekhawatiran atas Omicron. “Inti dari pembatasan (perjalanan) adalah memberi kami waktu untuk membuat orang divaksinasi,” ujar Biden.

Sejauh ini tidak ada kasus varian Omicron yang dilaporkan di AS, tetapi Fauci telah memperingatkan bahwa virus itu mungkin sudah ada di negara tersebut.

Berbicara pada program Good Morning America ABC, Fauci mengatakan para ilmuwan berharap untuk mengetahui dalam satu atau dua minggu ke depan seberapa efektif vaksin covid-19 yang ada melindungi terhadap varian tersebut, dan seberapa berbahayanya dibandingkan dengan jenis sebelumnya. "Kami benar-benar tidak tahu," kata Fauci, menyebut spekulasi "prematur".

Angelique Coetzee dari Asosiasi Medis Afrika Selatan, yang pertama kali mendeteksi Omicron di Afrika Selatan bulan ini, mengatakan bahwa orang yang terinfeksi dengan varian baru tersebut sejauh ini tampaknya memiliki gejala yang sangat ringan, terutama mereka yang diinokulasi setelah Agustus.

Varian Omicron telah terdeteksi di lebih dari 10 negara termasuk Kanada, Australia, Portugal, Swiss, Inggris dan Mozambik.

Pada hari Senin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa risiko global dari penyebaran Omicron sangat tinggi dan mendesak 194 negara anggota untuk mempercepat pengiriman vaksinasi ke kelompok berisiko tinggi.

Belum ada kasus kematian terkait Omicron yang dilaporkan, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai potensinya untuk lolos dari perlindungan terhadap kekebalan yang disebabkan oleh vaksin dan infeksi sebelumnya, tambah WHO. “Omicron memiliki jumlah mutasi lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, beberapa di antaranya mengkhawatirkan dampak potensial mereka pada lintasan pandemi,” katanya.

Varian Omicron sangat mudah menular dan membutuhkan tindakan segera, menurut menteri kesehatan Kelompok G7 dalam sebuah pernyataan bersama.

Para menteri memuji Afrika Selatan karena mendeteksi varian tersebut, sambil mendesak jaringan pengawasan patogen internasional untuk didirikan di dalam WHO.

Munculnya varian Omicron dinilai memvalidasi peringatan sebelumnya bahwa penyebaran virus yang tidak terkendali di negara-negara dengan akses vaksin yang rendah akan menyebabkan mutasi dan varian baru yang berbahaya. “Ketidakadilan yang menjadi ciri respons global kini telah muncul kembali,” tutur Richard Hatchett, kepala eksekutif Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi, mengatakan kepada majelis menteri kesehatan di WHO di Jenewa. (Aljazeera/OL-12)

BERITA TERKAIT