29 November 2021, 08:59 WIB

Terkait Omicron, Afrika Selatan Minta Negara Lain Cabut Larangan Perjalanan Bagi Warganya


mediaindonesia.com | Internasional

PRESIDEN Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, pada Minggu (298/11) meminta negara-negara untuk segera mencabut larangan perjalanan yang "tidak dapat dibenarkan" secara ilmiah terkait dengan penemuan varian baru virus Covid-19, Omicron.

Puluhan negara dari Eropa hingga Asia telah memasukkan Afrika Selatan dan tetangganya ke dalam daftar hitam sejak ilmuwan Afrika Selatan menandai varian omicron pada 25 November.

Larangan penerbangan tersebut telah membuat marah beberapa pemimpin Afrika.

"Kami menyerukan kepada semua negara yang telah memberlakukan larangan perjalanan di negara kami dan negara-negara saudara kami di Afrika selatan untuk segera membalikkan keputusan mereka," kata Ramaphosa dalam pidato pertamanya kepada bangsa setelah adanya deteksi varian baru Covid-19 pada pekan lalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melabeli omicron sebagai "variant of concern", sementara para ilmuwan masih menilai virulensinya.

Ramaphosa yang sangat kecewa berpendapat bahwa larangan itu tidak diinformasikan oleh sains.

Negara-negara yang telah memberlakukan pembatasan perjalanan di Afrika selatan termasuk pusat perjalanan utama Qatar, Amerika Serikat, Inggris, Arab Saudi, Kuwait, dan Belanda.

Pada Minggu (28/11(, Presiden Malawi Lazarus Chakwera menuduh negara-negara Barat "Afropobia" karena menutup perbatasan mereka.

Sementara itu, dua menteri di Botswana memperingatkan agar tidak mempolitisasi virus tersebut. "Kami khawatir ada upaya untuk menstigmatisasi negara di mana virus tersebut terdeteksi," kata Menteri Kesehatan Edwin Dikoloti.

Kepala WHO di Afrika juga sama khawatirnya. "Dengan varian omicron yang sekarang terdeteksi di beberapa wilayah di dunia, memberlakukan larangan perjalanan yang menargetkan Afrika menyerang solidaritas global," kata Direktur Jenderal Regional WHO Matshidiso Moeti dalam sebuah pernyataan.

Ramaphosa memperingatkan bahwa larangan perjalanan akan semakin merusak ekonomi dan merusak kemampuan mereka untuk menanggapi dan pulih dari pandemi.

Afrika Selatan, negara paling maju di benua itu, sedang berjuang dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat dan tingkat pengangguran lebih dari 34%. Pembatasan perjalanan merupakan pukulan besar lainnya bagi industri pariwisata utamanya.

Ramaphosa mengecam negara-negara G20 karena mengabaikan komitmen yang dibuat pada pertemuan di Roma bulan lalu untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata di negara-negara berkembang.

"Alih-alih melarang perjalanan, negara-negara kaya di dunia perlu mendukung upaya negara berkembang untuk mengakses dan memproduksi dosis vaksin yang cukup untuk rakyat mereka tanpa penundaan. Pembatasan ini tidak dapat dibenarkan," ucapnya.

Ramaphosa meminta negara-negara kaya untuk berhenti memicu ketidaksetaraan vaksin, dengan menggambarkan vaksin sebagai "alat paling ampuh" untuk membatasi penularan omicron.

Lebih dari 35% orang dewasa di Afrika Selatan sudah divaksin Covid-19 lengkap setelah awal yang lambat untuk kampanye vaksin, dengan adanya keraguan yang meluas terhadap vaksin.

Negara itu adalah yang paling parah dilanda covid-19 di Afrika, dengan sekitar 2,9 juta kasus dan 89.797 kematian dilaporkan hingga saat ini.

Omicron diyakini memicu peningkatan infeksi, dengan 1.600 kasus baru tercatat rata-rata dalam tujuh hari terakhir dibandingkan dengan 500 pada pekan sebelumnya. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT