26 November 2021, 11:06 WIB

WHO: Hanya 27% Nakes Afrika yang Sudah Divaksin Covid-19 Lengkap


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa hanya sepertempat pekerja kesehatan di Afrika yang telah divaksinasi Covid-19 sepenuhnya. Badan tersebut memperingatkan bahwa sebagian besar tenaga medis garis depan benua itu terpapar bahaya.

Sebaliknya, sebuah penelitian baru terhadap 22 negara yang sebagian besar berpenghasilan tinggi mengungkapkan bahwa lebih dari 80% petugas layanan kesehatan di sana telah divaksinasi penuh terhadap virus korona, menurut WHO.

"Mayoritas petugas kesehatan Afrika masih belum divaksin dan tetap berisiko terkena infeksi Covid-19 yang parah," kata Direktur WHO Afrika Matshidiso Moeti setelah mengungkapkan hanya 27% petugas kesehatan di benua itu yang sudah divaksin.

"Penting untuk memiliki cakupan vaksin yang tinggi di antara petugas kesehatan tidak hanya untuk perlindungan mereka sendiri tetapi juga untuk pasien mereka dan untuk memastikan sistem perawatan kesehatan tetap beroperasi selama waktu yang sangat membutuhkan," jelas WHO.

Hanya satu negara di Afrika yang memiliki jumlah pekerja kesehatan yang diperlukan yakni 10,9 per 1.000 penduduk, sementara 16 negara memiliki kurang dari satu per 1.000, menurut WHO.

"Setiap kehilangan pekerja esensial ini karena Covid-19, karena sakit atau meninggal, sangat berdampak pada kapasitas penyediaan layanan," kata WHO.

Intervensi WHO datang ketika para ilmuwan di Afrika Selatan mengungkapkan bahwa mereka telah mendeteksi varian Covid-19 baru dengan jumlah mutasi yang sangat tinggi, yang diduga menyebabkan lonjakan infeksi "eksponensial" di sana.

Untuk pertama kalinya sejak puncak gelombang ketiga pada Agustus 2021, kasus di Afrika Selatan meningkat, melonjak 48% hingga 21 November 2021, dibandingkan dengan minggu sebelumnya.

"Dengan lonjakan kasus baru yang membayangi Afrika setelah musim perayaan akhir tahun, negara-negara harus segera mempercepat peluncuran vaksin ke petugas kesehatan," tegas Moeti. (Aiw/France24/OL-09)

BERITA TERKAIT