23 November 2021, 06:15 WIB

'Vaksinasi atau Mati', Seruan Jerman atas Merebaknya Kasus Covid-91 di Eropa


Adiyanto | Internasional

Sejauh ini, program vaksinasi menjadi satu cara efektif untuk meminimalisasi pencegahan covid-19. Oleh karena itu, pemerintah Jerman kembali memperingatkan negara-negara di eropa untuk melaksanakan program ini secara masif. “"Divaksinasi, disembuhkan, atau mati,” begitu kira-kira pilihannya.

Jerman mengeluarkan peringatan itu sehubungan adanya gelombang protes di sejumlah negara eropa, seperti Belanda dan Prancis yang sebagian warganya ogah dibatasi sehubungan wabah covid-19 yang diperkirakan bakal kembaki merebak pada musim dingin. Austria bahkan telah kembali memberlakukan lockdown.

Sebaliknya, Belgia, Belanda dan Prancis masih menghadapi  protes dari warganya yang anti kebijakan terkait Covid-19. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyebut kerusuhan selama tiga malam pada akhir pekan lalu sebagai "kekerasan murni" yang dilakukan oleh kaum "idiot’. PM Belgia Alexander De Croo menyebut kekerasan di Brussels juga benar-benar tidak dapat diterima.

Eropa kembali menjadi pusat pandemi lantaran penyerapan vaksin yang lamban di beberapa negara. Selain itu, adanya varian Delta yang sangat menular dan cuaca yang lebih dingin, membuat orang banyak berkumpul di dalam ruangan. "Mungkin pada akhir musim dingin ini, hampir semua orang di Jerman akan divaksinasi, disembuhkan, atau mati," kata Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn. Ia juga  mendesak agar lebih banyak warga divaksin.

Vaksin memang bukan jaminan orang tidak akan kembali tertular. Hal ini pun dialami Perdana Menteri Prancis Jean Castex yang dinyatakan positif pada Senin lalu meskipun sudah dua kali divaksin. Castex, yang akan diisolasi selama 10 hari, dinyatakan positif setelah melakukan pertemuan di Brussels dengan De Croo. Pemerintah Belgia pun  kemudian mengumumkan PM mereka pun dan beberapa menteri akan yang ikut pertemuan itu, akan dikarantina.

Kanselir Jerman Angela Merkel sepertinya akan kembali mengeluarkan aturan pembatasan yang lebih ketat bagi warganya. Menurut dia melarang mereka yang tidak divaksinasi dari ruang publik  saja tidak cukup.

Saat ini, kasus covid di Jerman kembali melonjak ditandai dengan keterisian tempat tidur di beberapa pusat perawatan. Di beberapa wilayah yang paling parah,  pemerintah Jerman bahkan telah memerintahkan untuk kembali melakukan penutupan, termasuk melarang kegiatan pasar Natal.

Di Austria, tetangga Jerman, pemerintah setempat juga telah menginstruksikan untuk menutup toko, restoran, dan pasar pada Senin lalu. "Lihat sekelilingmu, tidak ada orang di sini," kata Anelia Lyotin, yang menjaga kios di Wina yang menjual kacang dan buah kering. "Situasi ini sekarang buruk bagi semua orang dan satu-satunya solusi adalah semua orang harus mendapat vaksinasi," kata pria berusia 36 tahun itu.

 

Unuk Rasa

Akhir pekan kemarin, puluhan ribu demonstran turun ke jalan di kota-kota Eropa untuk menentang kebijakan pemerintah terkait covid-19. Di Belanda, puluhan orang ditangkap karena membuat kerusuhan yang dimulai di Rotterdam pada Jumat lalu. Merekla memprotes aturan lockdown di wilayah tersebut.

Sementara itu di Belgia, polisi harus menembakkan meriam air dan gas air mata ke pengunjuk rasa pada Minggu lalu.  Di Wina, Austria, puluhan ribu orang juga berunjuk rasa mengutuk "kediktatoran" pemerintah.

Akhir pekan lalu, pasukan keamanan Prancis tiba di Guadeloupe setelah seminggu kerusuhan terjadi di wilayah itu terkait tindakan pencegahan Covid-19. Presiden Emmanuel Macron memohon ketenangan di wilayah pulau Karibia, Prancis tersebut.

Pihak Palang Merah mengatakan pandemi telah menjadi beban bagi masyarakat. Menurut mereka perempuan dan kaum migran, termasuk di antara yang paling terpengaruh oleh efek sekunder dari krisis, seperti kehilangan pendapatan, kerawanan pangan, berkurangnya perlindungan terhadap kekerasan dan memburuknya kesehatan mental. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT