19 November 2021, 11:26 WIB

Polandia Tahan 100 Migran di Perbatasan, Tuduh Belarus Pimpin Upaya Penyeberangan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

TENTARA Polandia mengatakan telah menahan sekitar 100 migran yang melintasi perbatasan Belarus pada malam hari. Mereka menuduh pasukan Belarus memimpin operasi tersebut.

Insiden itu terjadi ketika Belarus, yang mengatakan ingin meredakan krisis, menyiapkan penerbangan repatriasi pertama bagi para migran ke Irak yang akan membawa antara 200 dan 300 orang di dalamnya.

Ribuan migran, terutama dari Timur Tengah, berkemah atau tinggal di dekat perbatasan Polandia-Belarus dalam kondisi yang memprihatinkan dan bertujuan menyeberang ke Uni Eropa.

Baca juga: UE Konfirmasi Akan Ada Pembicaraan dengan Belarus Tentang Migran

Uni Eropa mengatakan Belarus merekayasa krisis sebagai pembalasan atas sanksi terhadap negara bekas Uni Soviet itu. 

Minsk dan sekutu utamanya, Rusia, telah menampik tuduhan tersebut dan mengkritik Uni Eropa karena tidak menerima para migran yang ingin menyeberang.

Dalam insiden perbatasan terbaru, Kementerian Pertahanan Polandia mengatakan pasukan Belarus pertama kali melakukan pengintaian dan kemungkinan besar merusak pagar kawat berduri di sepanjang perbatasan.

"Kemudian orang Belarus memaksa para migran untuk melemparkan batu ke tentara Polandia untuk mengalihkan perhatian mereka. Upaya untuk melintasi perbatasan terjadi beberapa ratus meter jauhnya," kata kementerian itu, Kamis (18/11).

"Sekitar 100 migran ditahan," tuturnya, seraya menambahkan insiden itu terjadi di dekat Desa Dubicze Cerkiewne.

"Pasukan khusus Belarus memimpin serangan kemarin."

Rekaman video yang dirilis Kementerian Pertahanan menunjukkan tentara Polandia yang mengelilingi sekelompok besar migran berjongkok di daerah berhutan pada malam hari di samping kawat berduri.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko, yang telah memerintah selama hampir tiga dekade, telah berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel tentang krisis dua kali dalam beberapa hari terakhir.

Layanan pers Lukashenko, Rabu (17/11) mengatakan pemimpin Belarus tersebut dan Merkel setuju masalah secara keseluruhan akan dibawa ke tingkat Belarus dan Uni Eropa.

"Pejabat terkait, yang akan ditentukan dari kedua belah pihak, akan segera memulai negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang ada," katanya.

Juru bicara Merkel, Steffen Seibert, mengatakan pemimpin Jerman itu telah menggarisbawahi perlunya memberikan perawatan kemanusiaan dan opsi pemulangan bagi orang-orang yang terkena dampak

Seorang juru bicara Uni Eropa mengatakan ada pembicaraan teknis dan mendesak Minsk untuk memberikan akses kemanusiaan ke daerah perbatasan.

Kelompok-kelompok bantuan mengatakan sedikitnya 11 migran telah tewas sejak krisis dimulai pada musim panas.

Mereka telah menyerukan deeskalasi dan tanggapan kemanusiaan untuk masalah ini.

Polandia memperkirakan ada antara 3.000 hingga 4.000 migran di sepanjang seluruh perbatasan, dengan kelompok terbesar tetap dekat dengan penutupan perbatasan Bruzgi-Kuznica.

Palang Merah Belarus mengatakan sekitar 1.000 migran tinggal di sebuah gudang di dekat persimpangan itu dan 800 lainnya berkemah di dekatnya.

Belarus mengatakan sedang mempersiapkan penerbangan repatriasi sukarela yang direncanakan lepas landas dari Minsk pada Kamis (18/11) sekitar pukul 10.45 GMT dan akan terbang pertama ke Erbil dan kemudian ke Baghdad.

Beberapa maskapai penerbangan juga mengatakan mereka berusaha untuk menghentikan calon migran dari bepergian ke Belarus.

Tetapi para pejabat telah memperingatkan bahwa krisis mungkin membutuhkan waktu untuk mereda.

Menteri Pertahanan Polandia Mariusz Blaszczak, Rabu (17/11), mengatakan, "Kita harus mempersiapkan fakta bahwa situasi di perbatasan Polandia-Belarus tidak akan diselesaikan dengan cepat.”

"Kami harus mempersiapkan diri selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun," katanya kepada Radio Jedynka Polandia.

Dalam sebuah wawancara, kepala badan perbatasan Uni Eropa Frontex, Fabrice Leggeri juga mengatakan Uni Eropa harus mempersiapkan lebih banyak krisis migran hibrida yang direkayasa untuk tujuan politik.

"Kami harus mempersiapkan diri untuk situasi seperti ini yang dapat muncul cukup cepat," katanya, membandingkan kebuntuan saat ini dengan yang terjadi di perbatasan Yunani-Turki tahun lalu. (Straitstimes/OL-1)

BERITA TERKAIT