14 November 2021, 12:47 WIB

PBB Ingatkan Ancaman Bencana Iklim, Thunberg Kecam Kesepakatan COP26


Nur Aivanni | Internasional

SEKRETARIS Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan mengenai ancaman bencana iklim yang akan datang, sementara aktivis lingkungan Greta Thunberg mengecam kesepakatan konferensi iklim COP26, Sabtu (13/11).

Dan bahkan mereka yang menyambut kesepakatan di Glasgow mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dalam sebuah pernyataan menyusul kesepakatan yang dicapai, Sabtu (13/11) malam di konferensi Glasgow, Guterres mengakui kekurangan dari perjanjian tersebut.

Baca juga: Gara-Gara Polusi Udara, Sekolah di New Delhi Tutup Selama Sepekan

"Hasil #COP26 adalah kompromi, yang mencerminkan kepentingan, kontradiksi, dan kemauan politik di dunia saat ini," cuitnya. "Ini adalah langkah penting, tapi itu tidak cukup."

"Planet kita yang rapuh tergantung pada seutas benang", katanya memperingatkan. "Kita masih berhadapan dengan bencana iklim."

Dalam cuitan lanjutannya, Sekjen PBB mengirim pesan kepada kaum muda, komunitas adat, pemimpin perempuan, dan semua yang memimpin #ClimateAction.

"Saya tahu kalian mungkin kecewa. Tapi kita berada dalam pertarungan hidup kita, pertarungan ini harus dimenangkan," katanya.

Thunberg lebih blak-blakan dalam penilaiannya. 

"#COP26 sudah berakhir," cuitnya. "Berikut ringkasan singkatnya: Bla, bla, bla." 

"Tapi pekerjaan sebenarnya terus berlanjut di luar aula ini. Dan kami tidak akan pernah menyerah, selamanya," tambahnya.

Selama konferensi, Thunberg dan aktivis lainnya mengecam cara yang dimainkan, dengan alasan para pemimpin dunia telah gagal mencocokkan kata-kata mereka dengan tindakan nyata.

Meski begitu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tetap optimistis. 

"Masih ada banyak hal yang harus dilakukan di tahun-tahun mendatang," kata Johnson. "Tapi kesepakatan hari ini adalah langkah maju yang besar dan, secara kritis, kami memiliki kesepakatan internasional pertama untuk mengurangi batu bara secara bertahap dan peta jalan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat."

Sebuah pernyataan Komisi Eropa mengatakan kesepakatan itu membuat target kesepakatan iklim Paris 2015 tetap hidup dan memberi kesempatan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan delegasi konferensi membuat kemajuan dalam komitmen untuk mengurangi emisi berbahaya dan dalam mengumpulkan $100 miliar per tahun untuk membantu negara berkembang dan rentan. 

"Tapi tidak akan ada waktu untuk bersantai: masih ada kerja keras di depan," tambahnya.

Selama negosiasi akhir, Tiongkok dan India bersikeras bahasa tentang bahan bakar fosil harus diperhalus dalam teks keputusan akhir KTT. 

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Australia telah berjanji menjual batu bara selama beberapa dekade mendatang. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT