09 November 2021, 07:17 WIB

Mantan Diplomat AS Sebut Junta Myanmar Terbuka untuk Kemajuan


Nur Aivanni | Internasional

MANTAN Diplomat Amerika Serikat (AS) Bill Richardson, Senin (8/11), mengatakan dia yakin junta Myanmar terbuka untuk bekerja dengan dunia dalam bantuan kemanusiaan dan mungkin lebih setelah kunjungan langka yang menarik perhatian.

Richardson, mantan Duta Besar AS untuk PBB dan Gubernur New Mexico, muncul pekan lalu dalam sebuah foto pertemuan dengan pemimpin unta militer Myanmar Min Aung Hlaing, yang baru saja ditolak hadir di KTT ASEAN.

Dalam sebuah wawancara dengan AFP, Richardson menolak teguran dari para pembela HAM dan mengatakan dia berharap dia membuat kemajuan termasuk dalam menangani wabah covid-19 yang parah di negara tersebut.

Baca juga: Pengadilan Myanmar Tambah Dakwaan untuk Jurnalis AS

"Saya optimistis. Saya berharap kami membuat beberapa kemajuan ringan yang mungkin mengarah pada situasi yang lebih baik," kata Richardson sekembalinya ke AS. 

"Saya merasa mereka terbuka untuk lebih banyak kontak," lanjut Richardson, sambil menambahkan, "Ini akan sulit".

Richardson mengatakan dia diundang Kementerian Luar Negeri Myanmar untuk mencari cara mendatangkan vaksin covid-19. Dia mengatakan dia menyarankan agar Myanmar pada awalnya menerima 2 juta dosis dari Covax, aliansi internasional untuk negara-negara berkembang, dan dia memberikan rekomendasi khusus tentang pengiriman makanan ke bagian-bagian pedesaan yang terkena dampak parah.

Richardson mengatakan dia berharap dia telah menengahi kesepakatan untuk dimulainya kembali kunjungan Komite Internasional Palang Merah ke penjara - yang telah diisi dengan tahanan politik - yang telah ditangguhkan karena masalah covid-19.

Dia sebelumnya mengumumkan mampu mengeluarkan satu tahanan, Aye Moe, yang bekerja untuk Richardson Center miliknya dengan fokus pada pemberdayaan perempuan.

Saat berbicara tentang pertemuannya dengan Jenderal Min Aung Hlaing, Richardson berkata, "Saya telah dikritik karena pemotretan yang saya lakukan dengannya, tetapi saya pikir itu sepadan".

"Jika saya mengeluarkan seorang tahanan, itu sangat penting bagi saya, jika saya membuat kemajuan dalam masalah kemanusiaan dan vaksin dan mengizinkan kunjungan penjara oleh Palang Merah – melanjutkannya – saya pikir itu adalah pemberian yang mudah".

"Saya bukan pemerintah. Saya tidak melegitimasi pemerintah. Rakyat Myanmar melakukannya, dan pemerintah melakukannya. Saya hanya satu orang yang mencoba membuat perbedaan," ucapnya.

Militer Myanmar, pada 1 Februari menggulingkan pemerintahan terpilih dan menangkap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. 

Yang mengejutkan banyak diplomat, ASEAN - yang dikenal tidak campur tangan - baru-baru ini mengambil sikap tegas terhadap kudeta tersebut, menolak membiarkan pemimpin junta itu mewakili Myanmar dalam KTT yang diadakan pada Oktober.

Seorang utusan ASEAN, bulan lalu, membatalkan kunjungan ke Myanmar setelah diberitahu bahwa dia tidak akan dapat melihat siapa pun diadili, termasuk Suu Kyi.

Richardson mengatakan dia mendorong junta untuk menyambut utusan baik dari ASEAN dan PBB. 

Baru-baru ini, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menunjuk Noeleen Heyzer, seorang pejabat veteran PBB dari Singapura, sebagai utusan khusus untuk Myanmar.

Dia menggantikan Christine Schraner Burgener, yang telah gencar mengkritik junta dan yang masa jabatannya telah berakhir. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT