29 October 2021, 11:11 WIB

Brunei Pastikan Myanmar Masih Bagian dari ASEAN


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

KETUA Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Brunei Darussalam mengatakan Myanmar tetap menjadi bagian integral dari blok tersebut meski kepala junta Min Aung Hlaing tidak diundang menghadiri KTT pada tahun ini.

ASEAN menghadapi seruan untuk melangkah lebih jauh dengan menangguhkan atau bahkan mendepat Myanmar, namun Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei, tuan rumah KTT, justru berusaha meredakan ketegangan.

"Myanmar adalah bagian integral dari keluarga ASEAN,dan keanggotaan mereka tidak dipertanyakan," katanya dalam konferensi pers.

“ASEAN akan selalu ada untuk Myanmar,” tuturnya.

Baca juga: Presiden: Rusia Harus Bantu ASEAN Jaga Stabilitas Kawasan

Namun, dia menambahkan kelompok yang beranggotakan 10 orang itu berharap, “Myanmar akan kembali normal, sesuai dengan kehendak rakyatnya.”

Krisis di Myanmar mendominasi pertemuan puncak virtual ASEAN, pekan ini.

ASEAN telah mengundang seorang pegawai negeri senior untuk mewakili negara tersebut, sebagai tanggapan atas upaya junta untuk mendorong dialog domestik di tengah krisis politik Myanmar.

Junta menolak menunjuk perwakilan tersebut, tetapi kementerian luar negerinya, Selasa (26/10) malam membantah telah memboikot ASEAN.

“Myanmar akan terus bekerja sama secara konstruktif dengan Asean, termasuk dalam menerapkan konsensus lima poin,” katanya.

Menteri Luar Negeri Malaysia mengisyaratkan junta dapat dilarang hadir dalam pertemuan lebih lanjut dari blok tersebut.

Ditanya apakah Myanmar akan bergabung dengan pembicaraan di masa depan, dia menjawab, “Itu adalah pertanyaan sejuta dolar yang tidak dapat saya jawab sekarang.”

“Kami ingin melihat implementasi ‘konsensus lima poin’,” tambahnya, merujuk pada peta jalan untuk memulihkan perdamaian di Myanmar yang disusun oleh ASEAN.

ASEAN menunjuk utusan khusus untuk Myanmar, Menteri Luar Negeri Kedua Brunei Erywan Yusof, Agustus lalu. Tetapi dia belum mengunjungi negara itu setelah rezim tidak mengizinkannya bertemu Penasihat Negara yang ditahan, Aung San Suu Kyi, yang menghadapi serangkaian dakwaan di pengadilan junta dan dapat dipenjara selama beberapa dekade.

Ketua ASEAN yang akan datang, Kamboja, Kamis (28/10), mengatakan pihaknya akan mendorong penguasa militer Myanmar untuk membuka dialog dengan lawan-lawannya, kata menteri luar negerinya, Prak Sokhonn.

Memperingatkan bahwa Myanmar berada di ambang perang saudara, Sokhonn mengatakan Kamboja akan menunjuk seorang utusan khusus baru untuk Myanmar agar mulai bekerja awal tahun depan ketika mengambil alih kendali badan regional.

“Sementara kita semua menghormati prinsip non-intervensi dalam urusan dalam negeri negara-negara anggota, situasi di Myanmar terus menjadi perhatian serius,” ujarnya.

“(Itu) berdampak negatif pada kawasan, kredibilitas asosiasi dan pada rakyat Myanmar, saudara-saudari kita,” tambahnya.

Sokhonn mengatakan Kamboja mendukung boikot Min Aung Hlaing, tetapi menambahkan tidak pantas untuk berbicara tentang terus mengecualikan sang jenderal pada saat ini.

"Ada banyak kemungkinan dan akan berkembang," katanya.

“Itu akan sangat bergantung pada Myanmar,” tambahnya.

Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA), Kamis (28/10), mengucapkan selamat kepada Noeleen Heyzer atas pengangkatannya sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB (UNSG) untuk Myanmar.

"Heyzer memiliki pengalaman puluhan tahun yang luas dan pengabdian yang berdedikasi kepada PBB. Singapura mendoakan yang terbaik bagi Heyzer dalam upayanya untuk berkontribusi pada penyelesaian damai situasi di Myanmar," kata juru bicara MFA, dalam menanggapi pertanyaan media.

"Singapura juga ingin menyampaikan penghargaan yang mendalam kepada Christine Schraner Burgener atas upayanya yang luar biasa selama masa jabatannya sebagai Utusan Khusus UNSG untuk Myanmar sejak April 2018," tambah juru bicara itu.

Setelah kesimpulan dari KTT ASEAN minggu ini yang dipimpin Brunei, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengatakan pada hari Kamis bahwa asosiasi regional dan mitranya telah membahas cara untuk mempromosikan stabilitas di Myanmar.

“Senang ASEAN dan mitra kami telah mempertahankan keterlibatan intensif untuk mengatasi tantangan bersama seperti covid-19, pemulihan pascapandemi, dan perubahan iklim. Kami juga membahas cara untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional, dan situasi di Myanmar,” kata Balakrishnan dalam sebuah unggahan di Facebook.

“Kita harus terus memperkuat persatuan dan sentralitas ASEAN agar semakin kohesif, percaya diri, dan efektif,” tambahnya.

Dia juga mengatakan bahwa Singapura akan bekerja dengan ketua ASEAN yang akan datang, Kamboja, dengan harapan para pemimpin dapat segera bertemu secara langsung. (Aiw/OL-1)

BERITA TERKAIT