27 October 2021, 21:17 WIB

Jerman Prihatin Israel Cap Kelompok Sipil Palestina sebagai Teroris


Mediaindonesia.com | Internasional

PEMERINTAH Jerman sangat prihatin dengan penetapan Israel atas enam kelompok masyarakat sipil Palestina terkemuka sebagai organisasi teroris yang dilarang. Langkah tersebut juga dikritik oleh PBB.

Negara Yahudi itu mengatakan keputusannya pekan lalu karena dugaan pendanaan mereka terhadap Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Ia menuduh enam orang bekerja secara diam-diam dengan kelompok militan kiri, yang memelopori pembajakan pesawat pada 1970-an untuk menyoroti perjuangan Palestina dan dimasukkan dalam daftar hitam oleh beberapa pemerintah Barat.

"Kami sangat prihatin dengan keputusan Israel," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman kepada wartawan, Rabu (27/10). Penempatan kelompok itu dalam daftar teror akan memiliki implikasi politik, hukum, dan keuangan yang luas bagi mereka.

Baca juga: AS Kritik Keras, Israel Lanjutkan Pembangunan 3.000 Rumah di Palestina

Pemerintah Jerman secara rutin melakukan peninjauan terhadap tuduhan dan indikasi hubungan kemungkinan mitra dengan organisasi teroris. "Kami menunggu informasi lebih lanjut dari pemerintah Israel tentang pembenarannya atas langkah tersebut," kata juru bicara itu.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet pada Selasa menyebut keputusan Israel sebagai serangan terhadap kebebasan berserikat, berpendapat, dan berekspresi, serta hak untuk partisipasi publik. Jerman dan Israel menjalin hubungan diplomatik yang kuat dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, dengan Berlin berkomitmen untuk melestarikan negara Yahudi sebagai penebusan dosa atas Holocaust.

Baca juga: Israel Kirim Utusan ke AS tentang Kelompok Palestina Dicap Teroris

Selama 16 tahun berkuasa, Kanselir Angela Merkel telah menggambarkan keamanan nasional Israel sebagai prioritas penting dalam kebijakan luar negeri Jerman. Ia berjanji itu akan terus berlanjut oleh pemerintah masa depan dalam kunjungannya ke Jerusalem bulan ini. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT