26 October 2021, 23:54 WIB

Presiden Sampaikan Tiga Harapan ASEAN kepada AS


Andhika Prasetyo | Internasional

PRESIDEN Joko Widodo berharap hubungan ASEAN dan Amerika Serikat dapat terus diperkuat hingga akhirnya menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan. Harapan tersebut disampaikan dalam pidatonya saat menghadiri KTT ke-9 ASEAN-AS yang digelar secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/10). "Kita ingin melihat kawasan kita menjadi kawasan yang damai dan stabil. Saya yakin tidak akan ada perdamaian dan stabilitas di Asia tanpa peran dari ASEAN," ujar Jokowi.

Menurutnya, penghormatan terhadap hukum internasional, Treaty of Amity and Cooperation, serta perangkat norma dan hukum lain menjadi kunci.

Dalam konteks tersebut, kerja sama konkret untuk mengimplementasikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) secara terbuka dan inklusif menjadi sangat penting. Melalui kerja sama konkret akan terbangun kepercayaan yang tinggi, yang dengan sendirinya akan menopang stabilitas dan perdamaian. "ASEAN mengharapkan AS dapat menjadi salah satu mitra utama dalam mengimplementasikan empat prioritas kerjasama AOIP yaitu maritim, konektivitas, SDGs dan kerja sama perdagangan investasi," jelas mantan Wali Kota Solo itu.

Selain sinergi di sektor keamanan, Kepala Negara juga berharap ASEAN-AS dapat meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi. Negara-negara di Asia Tenggara harus ditopang untuk menjadi bagian dari rantai pasok perdagangan dunia.

"Persoalan rantai pasok yang tidak terdiversifikasi dengan baik telah memperparah disrupsi pada saat dunia menghadapi krisis. Oleh karena itu, ke depan, ASEAN siap menjadi bagian penting dari rantai pasok perdagangan dunia," imbuhnya.

Di samping itu, kemitraan di bidang ekonomi hijau dan berkelanjutan harus menjadi prioritas dalam kemitraan ASEAN-AS, termasuk di bidang transformasi teknologi dan energi. Menjelang COP26 di Glasgow, debat mengenai peningkatan komitmen tiap negara sangat mengemuka. Presiden memandang debat tersebut penting untuk diletakkan dalam konteks pembangunan berkelanjutan. "Debat ini juga harus ditopang dengan komitmen kerja sama bagi pemenuhan komitmen. Dengan demikian, kita dapat menggunakan energi kita untuk menangani isu perubahan iklim secara bersama dan tidak membuang energi untuk saling menyalahkan," paparnya.

Selanjutnya, Jokowi juga menggarisbawahi penguatan kerja sama di sektor kesehatan. Pandemi telah menyadarkan pentingnya investasi di bidang kesehatan. Untuk itu, pembangunan ketahanan kesehatan nasional akan menjadi modal dasar ketahanan kesehatan global.

"Rantai pasok produksi obat-obatan, vaksin, alat-alat kesehatan harus didiversifikasi, termasuk ke kawasan Asia Tenggara," ucap mantan wali kota Solo itu.

Lebih jauh, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa ASEAN saat ini tengah membangun sebuah arsitektur kesehatan baru. Kawasan berharap AS akan menjadi salah satu mitra utama pembangunan ketahanan kesehatan ASEAN.

"Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan apresiasi atas dukungan vaksin AS kepada negara-negara ASEAN yang jumlahnya lebih dari 30 juta. Upaya mencapai kesetaraan akses vaksin bagi semua negara akan menjadi kunci kecepatan dunia keluar dari pandemi," pungkasnya  (OL-8)

BERITA TERKAIT