26 October 2021, 13:42 WIB

Presiden Erdogan Batal Usir 10 Duta Besar Asing


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan, pada Senin, menarik kembali ancamannya untuk mengusir 10 duta besar asing atas pernyataan dukungan bersama mereka untuk seorang pemimpin masyarakat sipil yang dipenjara.

Penarikan ancaman itu terjadi setelah Amerika Serikat dan beberapa negara terkait lainnya mengeluarkan pernyataan serupa yang mengatakan mereka menghormati konvensi PBB yang mengharuskan diplomat untuk tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri negara tuan rumah.

Baca juga: Facebook Hapus Video Bolsonaro yang Kaitkan Vaksin Covid-19 dengan AIDS

Erdogan bertemu dengan mitra koalisinya yang berkuasa dan kemudian memimpin rapat kabinet selama berjam-jam di mana para menterinya dilaporkan memberi tahu dia tentang bahaya ekonomi dari meningkatnya ketegangan dengan beberapa sekutu dan mitra dagang terdekat Turki.

Dia mengakhiri rapat tersebut dengan mengumumkan dalam pernyataan yang disiarkan televisi bahwa 10 duta besar telah memetik pelajaran dan akan lebih berhati-hati sekarang. Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa Washington bermaksud untuk terus mempromosikan supremasi hukum dan menghormati hak asasi manusia saat bekerja dengan Turki pada banyak isu yang menjadi kepentingan bersama.

Erdogan awalnya mengancam para duta besar pada Kamis dan kemudian menggandakan - dengan menyatakan 10 utusan itu persona non grata - dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Sabtu.

Baca juga: Facebook Hapus Video Bolsonaro yang Kaitkan Vaksin Covid-19 dengan AIDS

Para diplomat mengatakan pengusiran itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan antara sesama negara anggota NATO.

Kebuntuan diplomatik dimulai ketika 10 kedutaan besar - termasuk Jerman dan Prancis - mengeluarkan pernyataan tidak biasa pada Senin lalu yang menyerukan penyelesaian kasus hukum yang adil dan cepat terhadap aktivis Osman Kavala.

Pemimpin masyarakat sipil dan pengusaha yang berusia 64 tahun itu telah dipenjara tanpa hukuman selama empat tahun. Pendukung memandang Kavala sebagai simbol yang tidak bersalah dari intoleransi Erdogan yang tumbuh terhadap perbedaan pendapat politik sejak selamat dari kudeta militer yang gagal pada 2016.

Namun Erdogan menuduh Kavala mendanai gelombang aksi protes anti-pemerintah tahun 2013 dan kemudian memainkan peran dalam upaya kudeta. (AFP/Nur/OL-6)
 

BERITA TERKAIT