12 October 2021, 18:45 WIB

Israel Gandakan Penjualan Air Tawar ke Yordania


Mediaindonesia.com | Internasional

ISRAEL secara resmi setuju, Selasa (12/10), untuk menggandakan jumlah air tawar yang diberikannya kepada tetangganya, Yordania, salah satu negara yang paling kekurangan air di dunia.

Kesepakatan itu adalah bukti bahwa, "Kami menginginkan hubungan bertetangga yang baik," kata Karine Elharrar, Menteri Infrastruktur, Energi, dan Sumber Daya Air Israel.

Elharrar melakukan perjalanan ke Yordania untuk upacara penandatanganan antara perwakilan Komite Air Bersama yang mengelola hubungan air bilateral. Ini menyempurnakan pengaturan yang pertama kali diumumkan pada Juli.

Kedua negara kemudian sepakat bahwa Israel akan menjual 50 juta meter kubik air per tahun ke Yordania, menggandakan yang sudah dipasoknya. "Ini merupakan penjualan air terbesar dalam sejarah kedua negara," kata Gidon Bromberg, Direktur Israel dari kelompok lingkungan regional EcoPeace Middle East.

Dia mengatakan bahwa kesepakatan itu mencerminkan pemahaman yang berkembang bahwa krisis iklim yang sudah sangat berdampak pada kawasan itu harus mengarah pada peningkatan kerja sama. Kerja sama Yordania dengan Israel di bidang air mendahului perjanjian damai mereka pada 1994.

Israel juga merupakan negara yang panas dan kering, tetapi teknologi desalinasi telah membuka peluang untuk menjual air tawar. Air tambahan yang disediakan Israel akan datang dari Laut Galilea, kata Shaked Eliahu, juru bicara Elharrar.

Kesepakatan air terjadi setelah hubungan bilateral mendingin di bawah mantan perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu. Naftali Bennett, yang mengambil alih pada Juni, telah menjadikan penguatan hubungan dengan Amman sebagai prioritas.

Baca juga: Tahanan Palestina Mogok Makan sebagai Protes kepada Israel

Israel juga telah menormalkan hubungan dengan empat negara Arab lain dalam Kesepakatan Abraham yang ditengahi oleh pemerintahan mantan presiden AS Donald Trump. Negosiasi dengan Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagian besar dibekukan. Bennett, mantan pemimpin pemukim, tidak mendukung pembentukan negara Palestina. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT