11 October 2021, 17:52 WIB

Trauma Menangani Korban Bom Bunuh Diri Masjid Syiah Afghanistan


Mediaindonesia.com |

RUMAH Sakit Daerah Azizullah Safar di Kunduz, Afghanistan, masih merawat 16 pasien pada Minggu (10/10). Tujuh di antara mereka berada di unit perawatan intensif (ICU). Mereka ialah korban bom bunuh diri di masjid syiah di Kunduz, Jumat (8/10).

Perawat wanita tampak merawat yang terluka dan terhubung dengan infus dan monitor detak jantung. Nuriya Ahmadi, seorang perawat di bangsal ICU selama lima tahun terakhir, mengatakan serangan seperti Jumat itu tidak hanya membuat para korban trauma, tetapi juga staf medis yang merawat mereka.

"Pasien dalam kondisi kritis memengaruhi kondisi mental kita juga, terutama pasien yang dibawa dari insiden seperti itu," katanya kepada AFP. "Kami mencoba melakukan segala yang kami bisa untuk memenuhi tanggung jawab kami kepada mereka."

Sejak berkuasa dua bulan lalu, Taliban telah memberlakukan pembatasan ketat pada pekerja perempuan. Akan tetapi Nuriya mengatakan staf di bangsal ICU belum menghadapi masalah itu. "Di bangsal ini, pasien perempuan dirawat di satu bagian dan dua lainnya pasien laki-laki dirawat," katanya.

Beberapa pekerjaan seharusnya hanya dilakukan oleh laki-laki. Namun ia menambahkan bahwa secara umum, "Kami akan melanjutkan pekerjaan seperti sebelumnya."

Ghulam Rabbani Sherzai, seorang dokter junior di bangsal utama, menggambarkan beban berat dalam menangani korban massal.  "Kami menggunakan semua sumber daya kami untuk digunakan," katanya. Jika terlalu banyak pasien datang sekaligus, "Kami tidak akan memiliki fasilitas yang cukup."

"Kami secara alami akan berada di bawah tekanan." Ditanya dampak korban tragedi seperti itu kepada mereka, dia berkata, "Seorang dokter juga manusia."

Baca juga: Cerita Muazin Masjid Syiah Afghanistan saat Bom Bunuh Diri Meledak

"Itu memiliki efek mental pada kami juga. Kami sedih karena mereka ialah warga negara kami." (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT