10 October 2021, 20:50 WIB

Putra Menteri India Ditangkap Terkait Pembunuhan Petani 


Nur Aivanni | Internasional

POLISI India mengonfirmasi putra seorang Menteri di India yang ditangkap dengan tuduhan pembunuhan. Penangkapan itu dilakukan seminggu setelah kematian delapan orang dalam aksi protes petani yang memicu kemarahan nasional. 

Ashish Mishra ditahan di Uttar Pradesh pada Sabtu malam atas insiden di distrik Lakhimpur Kheri di negara bagian utara, tempat para petani berdemonstrasi sebagai bagian dari kampanye mereka selama setahun menentang undang-undang pertanian yang kontroversial. 

Petani mengklaim bahwa konvoi milik Mishra dan ayahnya yang merupakan menteri dalam negeri junior Ajay Mishra, menabrak pengunjuk rasa, menewaskan empat dari mereka. 

Demonstran yang marah kemudian membakar beberapa mobil dan empat orang lainnya, termasuk seorang pengemudi dan seorang jurnalis, tewas, menurut pihak berwenang dan laporan media lokal. 

Mishra ditangkap dengan alasan tidak kooperatif dan jawaban mengelak dalam interogasi selama berjam-jam, menurut Wakil Inspektur Jenderal Polisi Upendra Kumar Agrawal kepada wartawan. 

Baca juga : Pengadilan Israel Batalkan Pembolehan Ibadah Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Mishra akan menghadapi pengadilan pada Senin dan tuntutan resmi harus diajukan dalam waktu 90 hari. Mishra dan ayahnya telah membantah tuduhan tersebut. 

Mahkamah Agung India mengatakan pada Jumat bahwa pihaknya "tidak puas" dengan penyelidikan polisi atas kasus tersebut dan mempertanyakan mengapa Mishra yang lebih muda belum ditangkap. 

Insiden itu adalah yang paling mematikan sejak para petani mulai berkemah di pinggiran ibu kota New Delhi pada November yang menuntut pencabutan undang-undang kontroversial itu. 

Sektor pertanian, yang mempekerjakan sekitar dua pertiga dari 1,3 miliar penduduk India, telah lama menjadi ladang ranjau politik. 

Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan sektor itu sangat tidak efisien dan membutuhkan reformasi. Tetapi para petani khawatir perubahan itu akan membuat mereka bergantung pada perusahaan besar. (AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT