07 October 2021, 11:45 WIB

WHO Rekomendasikan Penggunaan Vaksin Malaria Pertama untuk Anak


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

BADAN Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan 94% kasus dan kematian akibat malaria terjadi di Afrika. Di benua berpenduduk 1,3 miliar itu, malaria jauh lebih mematikan daripada covid-19.

Penyakit tersebut membunuh 386.000 orang Afrika pada 2019, menurut perkiraan WHO, sementara kematian akibat covid-19 yang dikonfirmasi dalam 18 bulan terakhir mencapai 212.000 kasus. Oleh sebab itu, WHO telah mengesahkan vaksin malaria RTS,S/AS01 pada Rabu (6/10).

Vaksin yang dijual sebagai Mosquirix itu pertama kali dibuat oleh perusahaan farmasi Inggris GlaxoSmithKline (GSK) pada 1987. Sejak 2019, 2,3 juta dosis Mosquirix telah diberikan kepada bayi di Ghana, Kenya, dan Malawi dalam program percontohan skala besar yang dikoordinasikan oleh WHO. Mayoritas warga yang dibunuh oleh penyakit ini berusia di bawah lima tahun.

Program itu mengikuti satu dekade uji klinis di tujuh negara Afrika.

Setelah meninjau bukti dari negara-negara itu, WHO merekomendasikan penggunaan luas vaksin malaria pertama di dunia tersebut. WHO mengatakan dalam sebuah pernyataan, pihaknya merekomendasikan penerapan vaksin secara luas di antara anak-anak di Afrika sub-Sahara dan di wilayah lain dengan penularan malaria sedang hingga tinggi.

“Vaksin malaria yang sudah lama ditunggu-tunggu ini merupakan terobosan ilmu pengetahuan. Ini adalah vaksin yang dikembangkan di Afrika oleh para ilmuwan Afrika dan kami sangat bangga,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Menggunakan vaksin ini selain alat yang ada untuk mencegah malaria dapat menyelamatkan puluhan ribu jiwa muda setiap tahun,” tambahnya.

Baca juga: KONI Sumut Antisipasi Penyakit Malaria Pada PON 2021 Papua

Vaksin ini bekerja melawan plasmodium falciparum, salah satu dari lima spesies parasit dan yang paling mematikan. Gejala malaria termasuk demam, sakit kepala dan nyeri otot, kemudian siklus menggigil, demam dan berkeringat.

Efektivitas vaksin dalam mencegah kasus malaria parah pada anak-anak hanya sekitar 30%, tetapi itu adalah satu-satunya vaksin yang disetujui.

Rekomendasi Disambut Baik

GSK juga menyambut baik rekomendasi WHO tersebut.

“Keputusan penting yang telah lama ditunggu-tunggu ini dapat menghidupkan kembali perang melawan malaria di kawasan itu pada saat kemajuan dalam pengendalian malaria terhenti,” kata Kepala Petugas Kesehatan Global Thomas Breuer dalam sebuah pernyataan.

Para ahli mengatakan tantangannya sekarang adalah memobilisasi pembiayaan untuk produksi dan distribusi vaksin ke beberapa negara termiskin di dunia.

GSK hingga saat ini berkomitmen untuk memproduksi 15 juta dosis Mosquirix setiap tahun, selain 10 juta dosis yang disumbangkan untuk program percontohan WHO, hingga tahun 2028 dengan biaya produksi ditambah margin tidak lebih dari 5%.

Sebuah studi pasar global yang dipimpin oleh WHO tahun ini memproyeksikan permintaan untuk vaksin malaria akan menjadi 50 hingga 110 juta dosis per tahun pada tahun 2030 jika digunakan di daerah dengan penularan penyakit sedang hingga tinggi.

Aliansi vaksin GAVI, kemitraan publik-swasta global, akan mempertimbangkan pada bulan Desember apakah dan bagaimana mendanai program vaksinasi.

“Seperti yang telah kita lihat dari vaksin covid-19, di mana ada kemauan politik, ada dana yang tersedia untuk memastikan bahwa vaksin ditingkatkan ke tingkat yang dibutuhkan,” kata Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin dan Biologi WHO Kate O'Brien.

Sebuah sumber yang akrab dengan perencanaan pengembangan vaksin mengatakan harga per dosis belum ditetapkan, tetapi akan dikonfirmasi setelah keputusan pendanaan GAVI dan setelah ada permintaan yang jelas untuk vaksin.

BioNTech Jerman, yang mengembangkan vaksin virus korona dengan raksasa AS Pfizer, juga mengatakan akan memulai uji coba vaksin malaria tahun depan menggunakan teknologi mRNA terobosan yang sama.

WHO juga berharap rekomendasi terbaru ini akan mendorong para ilmuwan untuk mengembangkan lebih banyak vaksin malaria.

Keputusan WHO memiliki makna pribadi bagi Rose Jalong'o, seorang spesialis vaksinologi di kementerian kesehatan Kenya.

“Saya menderita malaria sebagai seorang anak dan selama magang saya, dan selama tahun-tahun klinis saya, saya merawat anak-anak di rumah sakit karena malaria parah yang membutuhkan transfusi darah dan sayangnya, beberapa dari mereka meninggal,” kisahnya.

“Ini adalah penyakit yang saya alami dan, melihat semua ini dalam hidup saya, ini adalah waktu yang menyenangkan,” tuturnya. (Straitstimes/Aljazeera/OL-5)

BERITA TERKAIT