06 October 2021, 10:14 WIB

Kini, Ada Robot yang Berpatroli di Singapura


Basuki Eka Purnama | Internasional

SINGAPURA, saat ini, tengan menguji coba robot untuk melakukan patroli, mengingatkan warga yang dianggap melakukan perilaku sosial yang tidak benar.

Robot itu menambah panjang daftar teknologi pengawasan yang digunakan untuk mengawasi warga negara kota itu.

Dari sejumlah kamera CCCTV hingga tiang lampu yang dilengkapi dengan teknologi pengenalan wajah, Singapura mengalami lonjakan alat untuk melacak warga mereka.

Baca juga: Suu Kyi Tak akan Bawa Saksi Pembela dalam Sidangnya

Saat pemerintah Singapura menginginkan negara pintar yang super efisien dan canggih, aktivis mengatakan privasi warga dikorbankan.

Singapura, selama ini, dikritik karena mengabaikan kebebasan sipil dan warga mereka telah terbiasa dengan kontrol yang ketat.

Teknologi pengawas tebaru pemeirntah Singapura adalah robot yang dilengkapi tujuh kamera yang akan mengeluarkan peringatan jika melihat perilaku sosial yang tidak benar.

Perilaku sosial yang dimaksud antara lain merokok di tempat terlarang, memarkir sepeda dengan tidak benar, dan melanggar protokol covid-19.

Salah satu robot yang diberi nama Xavier, saat berpatroli di sebuah komplek perumahan, berhenti di depan sekelompok warga lansia yang tengah menonton pertandingan catur.

"Mohon jaga jarak satu meter, mohon maksimal lima orang per kelompok," ujar suara yang keluar dari robot itu saat kameranya melihat ke arah kelompok lansia itu.

Saat uji coba selama tiga pekan September lalu, dua robot diterjunkan untuk berpatorli di komplek perumahan dan pusat perbelanjaan.

"Mereka mengingatkan saya pada Robocop," ujar Frannie Teo, 34, saat melihat robot patroli itu di sebuah mal.

Aktivis hak digital Lee Yi Ting menyebut robot itu adalah alat terbaru yang digunakan pemerintah Singapura untuk mengawasi warga mereka.

"Keberadaan robot-robot itu membuat warga Singapura merasa harus benar-benar mengendalikan apa yang mereka katakan atau lakukan ketimbang kala berada di negara lain," katanya.

Namun, pemerintah Singapura membela keputusan mereka menggunakan robit itu dengan menegaskan robot itu tidak digunakan untuk mengidentifikasi atau menindak pelanggaran namun digunakan untuk mengatasi minimnya tenaga kerja di negara yang populasinya semakin menua itu.

"Jumlah pekerja di negara ini terus menurun," ujar perwakilan pemerintah yang mengembangkan robot Xavier, Ong Ka Hing, sembari mengatakan keberadaan robot itu bisa mengurangi jumlah polisi yang diterjunkan untuk berpatroli. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT