05 October 2021, 16:54 WIB

Gereja Katolik Prancis Temukan 216.000 Korban Pelecehan Seksual dari 1950


Mediaindonesia.com |

PENYELIDIKAN independen terhadap dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur oleh para imam Katolik Prancis, diakon, dan pendeta lain telah menemukan sekitar 216.000 korban dari 1950 hingga 2020. Fenomena besar ini ditutupi selama beberapa dekade oleh selubung keheningan.

Laporan penting yang dirilis Selasa (5/10) setelah 2,5 tahun penyelidikan itu menyusul kemarahan yang meluas atas serangkaian klaim pelecehan seksual dan penuntutan terhadap pejabat gereja di seluruh dunia. Ketika anggota biasa gereja seperti guru di sekolah katolik dimasukkan, jumlah korban pelecehan anak meningkat menjadi 330.000 selama periode tujuh dekade.

"Angka-angka ini lebih dari mengkhawatirkan. Mereka memberatkan dan sama sekali tidak bisa dibiarkan tanpa tanggapan," kata presiden komite investigasi, Jean-Marc Sauve, pada konferensi pers.

 

"Sampai awal 2000-an Gereja Katolik menunjukkan ketidakpedulian yang mendalam dan bahkan kejam terhadap para korban," katanya.

Uskup Agung Eric de Moulins-Beaufort, presiden Konferensi Waligereja Prancis (CEF), yang ikut meminta laporan itu, mengungkapkan rasa malu dan ngeri atas temuan itu. "Keinginan saya hari ini yakni meminta pengampunan dari anda masing-masing," katanya pada konferensi pers.

Sauve mencela karakter sistemis dari upaya melindungi pendeta dari klaim pelecehan seks. Ia mendesak gereja untuk membayar kompensasi meskipun sebagian besar kasus jauh di luar undang-undang pembatasan untuk penuntutan.

 

Laporan itu, hampir 2.500 halaman, menemukan bahwa sebagian besar korban ialah anak laki-laki praremaja dari berbagai latar belakang sosial. "Gereja Katolik, setelah lingkaran keluarga dan teman, menjadi lingkungan yang memiliki prevalensi tertinggi kekerasan seksual," kata laporan itu. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT