01 October 2021, 16:32 WIB

PBB Laporkan Malanutrisi di Tigray Ethiopia


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PBB memperingatkan malanutrisi yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara wanita hamil dan menyusui di wilayah Tigray yang dilanda perang di Ethiopia. Peringatan ini terungkap dalam laporan yang diterbitkan beberapa jam setelah pemerintah negara tersebut mengusir pejabat senior PBB.

Laporan situasi terbaru dari kantor koordinasi kemanusiaan PBB yang diunggah daring pada Kamis (30/9) malam tersebut juga menggambarkan kekurangan gizi yang mengkhawatirkan di antara anak-anak. Soalnya, ada ketakutan kelaparan massal terjadi hampir 11 bulan setelah Ethiopia utara meletus dalam konflik. "Dari lebih dari 15.000 wanita hamil dan menyusui yang diskrining selama periode pelaporan, lebih dari 12.000 wanita, atau sekitar 79%, didiagnosis dengan malanutrisi akut," kata laporan itu.

"Tingkat kekurangan gizi sedang pada anak balita juga melebihi ambang batas darurat global 15%, yakni sekitar 18%. Kasus anak-anak dengan gizi buruk sebesar 2,4% di atas tingkat yang mengkhawatirkan 2%," katanya.

Pada Kamis, Ethiopia mengumumkan akan mengusir tujuh pejabat senior PBB karena ikut campur dalam urusannya, termasuk kepala lokal badan anak-anak PBB UNICEF dan kantor koordinasi kemanusiaan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dia terkejut dengan keputusan itu.

Para diplomat mengatakan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB akan diadakan secara tertutup pada Jumat untuk membahas masalah tersebut. Para pejabat PBB diberi waktu 72 jam untuk meninggalkan negara itu.

Perdana Menteri Abiy Ahmed, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2019, mengirim pasukan ke Tigray, November lalu, untuk menggulingkan partai penguasa regional, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Langkah ini katanya sebagai tanggapan atas serangan TPLF di kamp-kamp tentara.

Pertempuran berlangsung selama berbulan-bulan sebelum pemberontak Tigrayan merebut kembali ibu kota regional Mekele pada Juni dan pasukan pemerintah sebagian besar mundur dari wilayah tersebut. Sejak itu, TPLF melancarkan serangan ke wilayah tetangga Amhara dan Afar.

Tanda-tanda kepungan

Tigray hanya menerima sekitar 10% dari bantuan yang dibutuhkan. Pada Juli PBB memperingatkan bahwa 400.000 orang di seluruh wilayah telah melewati ambang kelaparan.

Laporan situasi PBB yang diterbitkan pada Kamis mengatakan bahwa selama pekan yang berakhir Selasa, 79 truk bantuan telah mencapai Tigray dari Afar. "Ini menambah jumlah truk kemanusiaan yang masuk ke wilayah tersebut sejak 12 Juli menjadi 606 truk atau 11% dari kebutuhan truk," katanya.

Pejabat federal menyalahkan TPLF karena menghalangi pengiriman, tetapi juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pekan lalu bahwa akses ke pasokan dan layanan penting ditolak oleh pemerintah Ethiopia dan ada indikasi pengepungan.

Pada September, PBB membunyikan alarm melalui ratusan truk bantuan yang dikatakan belum kembali dari Tigray. TPLF mengatakan ini karena hambatan yang dihadapi pengemudi saat masuk dari Afar. Saat ini jalur itu merupakan satu-satunya rute jalan yang layak ke Tigray.

Laporan Kamis mengatakan 35 truk kosong telah kembali ke Afar dari ibu kota Tigray, Mekele, untuk mengangkut lebih banyak stok makanan. PBB telah mampu mengoperasikan 17 penerbangan penumpang dari Addis Ababa ke Mekele sejak Juli.

Namun, jembatan udara kemanusiaan Uni Eropa yang awalnya diharapkan dapat memberikan layanan yang cukup teratur, hanya mampu mengoperasikan satu penerbangan sejak diresmikan pada 11 September. (Straitstimes/OL-14)

BERITA TERKAIT