23 September 2021, 15:38 WIB

FDA Amerika Serikat Izinkan Vaksin Pfizer untuk Lansia Atas 65 Tahun


Mediaindonesia.com | Internasional

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat pada Rabu (22/9) mengizinkan vaksin COVID-19 Pfizer/BioNTech ketiga bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun dan sejumlah warga Amerika yang sangat berisiko.

Dosis penguat akan diberikan sedikitnya enam bulan setelah dosis kedua dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang rentan terhadap penyakit parah dan pekerja di lini terdepan, kata FDA.

Panel penasihat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) akan mengelar pemungutan suara terkait penggunaan vaksin ketiga, kata salah satu pejabat di rapat umum panel, Rabu (23/9).

Presiden Joe Biden pada Agustus mengumumkan bahwa pemerintah berniat meluncurkan vaksinasi ketiga bagi warga berusia 16 tahun ke atas pekan ini, menunggu persetujuan FDA dan CDC.

Penasihat FDA pada Jumat akan memberikan suara untuk merekomendasikan dosis penguat bagi warga Amerika berusia 65 tahun ke atas dan mereka yang berisiko penyakit parah.

Panel penasihat menyebutkan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mendukung vaksin ketiga bagi semua warga yang berusia 16 tahun ke atas, yang telah menerima dosis kedua. Panel juga berupaya mengumpulkan lebih banyak data keamanan.

Badan tersebut dapat mengkaji lagi masalah dosis tambahan untuk otoritasi yang lebih luas ke depannya. Muncul perbedaan pendapat di kalangan anggota FDA mengenai kebutuhan dosis penguat bagi masyarakat umum. Ketua sementara Janet Woodcock mendukung itu dan sejumlah ilmuwan senior badan tersebut berpendapat bahwa bukti saat ini tidak mendukung vaksin ketiga.

Johnson & Johnson pada Selasa mengklaim vaksin COVID-19 kedua mereka meningkatkan efektivitasnya pada penyakit sedang hingga parah di Amerika Serikat.

Sejumlah negara seperti Israel dan Inggris telah meluncurkan vaksinasi ketiga COVID-19.

Bulan lalu AS mengizinkan dosis tambahan bagi pengidap gangguan sistem imun dan 2 juta orang lebih telah menerima vaksin ketiga, menurut data CDC. (Ant/OL-12)

BERITA TERKAIT