14 September 2021, 17:17 WIB

Taliban Bantah Wakil Perdana Menteri Mullah Baradar Tewas


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

TALIBAN membantah bahwa salah satu pemimpin utama mereka tewas dalam baku tembak dengan musuhnya. Ini menyusul desas-desus tentang perpecahan internal dalam gerakan itu.

Juru bicara Taliban, Sulail Shaheen, mengatakan, mantan kepala kantor politik Taliban yang ditunjuk sebagai wakil perdana menteri pekan lalu, Mullah Abdul Ghani Baradar, mengeluarkan pesan suara yang menolak klaim bahwa dia telah terbunuh atau terluka dalam bentrokan. "Dia mengatakan itu bohong dan sama sekali tidak berdasar," kata Shaheen dalam pesan di Twitter.

Taliban juga merilis rekaman video yang konon menunjukkan Baradar pada pertemuan di kota selatan Kandahar. Penyangkalan itu menyusul rumor bahwa para pendukung Baradar telah bentrok dengan pendukung Sirajuddin Haqqani, kepala jaringan Haqqani yang berbasis di dekat perbatasan dengan Pakistan dan dipersalahkan atas beberapa serangan bunuh diri terburuk dalam perang tersebut.

Desas-desus tersebut mengikuti spekulasi tentang kemungkinan persaingan antara komandan militer seperti Haqqani dan para pemimpin dari kantor politik di Doha seperti Baradar yang memimpin upaya diplomatik untuk mencapai penyelesaian dengan Amerika Serikat. Taliban telah berulang kali membantah spekulasi tentang perpecahan internal.

Baradar, yang pernah dianggap sebagai kepala pemerintahan Taliban, tidak terlihat di depan umum selama beberapa waktu dan bukan bagian dari delegasi menteri yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani di Kabul pada Minggu. Pemimpin tertinggi gerakan itu, Mullah Haibatullah Akhundzada, juga tidak terlihat di depan umum sejak Taliban merebut Kabul pada 15 Agustus, meskipun ia mengeluarkan pernyataan publik ketika pemerintahan baru dibentuk pekan lalu.

 

Spekulasi mengenai para pemimpin Taliban telah didorong oleh keadaan seputar kematian pendiri gerakan tersebut, Mullah Omar, yang baru diumumkan pada 2015 atau dua tahun setelah itu terjadi. Ini memicu tuduhan pahit di antara para pemimpin. (Straitstimes/OL-14)

BERITA TERKAIT