12 September 2021, 16:29 WIB

18 Bulan Ditutup Akibat Covid-19, Sekolah di Bangladesh Dibuka Kembali


Nur AivanniĀ  | Internasional

ANAK-ANAK di Bangladesh kembali membanjiri ruang kelas pada hari Minggu ketika sekolah di negara tersebut dibuka kembali setelah 18 bulan. Itu merupakan salah satu penutupan terlama akibat virus korona di dunia.

Pembukaan kembali sekolah itu dilakukan setelah UNICEF memperingatkan bahwa penutupan sekolah yang berkepanjangan selama krisis covid-19 memperburuk ketidakadilan bagi jutaan anak di seluruh Asia Selatan.

Baca juga: Polisi Afghanistan Kembali Bekerja Bersama Taliban di Bandara

Di ibu kota Dhaka, siswa di satu sekolah disambut dengan bunga dan permen, dan disuruh memakai masker dan membersihkan tangan mereka. Beberapa orang saling berpelukan dalam suasana yang gembira.

"Kami sangat bersemangat bisa kembali ke sekolah," kata Muntasir Ahmed yang berusia 15 tahun kepada AFP saat memasuki kampus. "Saya berharap dapat melihat secara fisik semua teman dan guru saya, tidak melalui layar laptop hari ini," katanya.

Di pintu gerbang, petugas sekolah memeriksa suhu tubuh siswa sebelum mengizinkan mereka masuk. Wakil Kepala Sekolah, Dewan Tamziduzzaman, mengatakan dia tidak menyangka jumlah yang begitu besar akan muncul pada hari pertama.

Hanya 41 persen dari 169 juta penduduk Bangladesh yang memiliki ponsel pintar, menurut asosiasi operator telekomunikasi negara itu, yang berarti jutaan anak tidak dapat mengakses kelas daring.

Bahkan dengan smartphone, siswa di banyak distrik pedesaan Bangladesh tidak memiliki akses internet berkecepatan tinggi yang biasanya diperlukan untuk e-learning.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada Kamis, UNICEF memperingatkan bahwa pandemi telah menonjolkan "ketidaksetaraan yang mengkhawatirkan" bagi lebih dari 430 juta anak di wilayah tersebut.

"Penutupan sekolah di Asia Selatan telah memaksa ratusan juta anak dan guru mereka untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh di wilayah dengan konektivitas rendah dan keterjangkauan perangkat," kata direktur regional UNICEF, George Laryea-Adjei, dalam sebuah pernyataan.

"Akibatnya, anak-anak mengalami kemunduran besar dalam perjalanan belajar mereka," ucapnya.

Di India, 80 persen anak-anak berusia 14-18 tahun mengatakan mereka belajar lebih sedikit daripada ketika mereka berada di ruang kelas secara fisik, menurut UNICEF.

Di antara anak-anak berusia antara enam dan 13 tahun, 42 persen mengatakan mereka tidak memiliki akses ke pembelajaran jarak jauh. "Masa depan mereka dipertaruhkan," kata Deepu Singh, seorang petani di negara bagian Jharkhand, India, pekan lalu tentang anak-anaknya yang berusia sembilan dan 10 tahun.

Dikatakan Singh kepada AFP, kedua anaknya tersebut tidak bersekolah dalam setahun dan tidak memiliki akses internet di rumah. "Saya tidak tahu bahasa Inggris. Saya tidak dapat membantunya (anak saya), bahkan jika saya mau," ungkapnya.

Siswa di wilayah lain juga terkena dampak yang sama, lapor UNICEF. Di Pakistan, 23 persen anak tidak memiliki akses ke perangkat apa pun untuk pembelajaran jarak jauh.

Beberapa kota di Nepal telah menyiarkan pelajaran melalui radio karena kurangnya akses internet. "Kami berada (dalam) situasi berbahaya," kata guru sekolah Nepal, Rajani K.C., kepada AFP pekan lalu.

"Jika pandemi berlanjut dan sektor akademik kehilangan lebih banyak tahun, sumber daya manusia seperti apa yang akan dimiliki negara di masa depan?" tanyanya. (AFP/OL-6)

BERITA TERKAIT