12 September 2021, 13:53 WIB

Rilis Dokumen FBI, Intelijen Saudi Dituduh Terlibat dalam Serangan 9/11


 Nur Aivanni | Internasional

PEMERINTAH Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendeklasifikasi memo FBI pada Sabtu (11/9) yang memperkuat kecurigaan keterlibatan Arab Saudi dengan para pembajak dalam serangan 11 September 2001.

Memo tertanggal 4 April 2016, yang dirahasiakan hingga sekarang, menunjukkan hubungan antara Omar Bayoumi, yang saat itu masih mahasiswa tetapi diduga menjadi agen intelijen Saudi, dan dua agen Al-Qaeda yang terlibat dalam rencana untuk membajak dan menabrakkan empat pesawat ke sasaran di New York dan Washington.

Berdasarkan wawancara tahun 2009 dan 2015 dengan sumber yang identitasnya dirahasiakan, dokumen tersebut merinci hubungan dan pertemuan antara Bayoumi dan dua pembajak, Nawaf al Hazmi dan Khalid al Midhar, setelah keduanya tiba di Southern California pada tahun 2000 menjelang serangan tersebut.

Dokumen itu juga memperkuat hubungan yang telah dilaporkan antara keduanya dan Fahad al Thumairy, seorang imam konservatif di masjid King Faad di Los Angeles, AS, dan seorang pejabat di konsulat Saudi di sana.

Dokumen tersebut mengatakan bahwa nomor telepon yang terkait dengan sumber tersebut menunjukkan kontak dengan sejumlah orang yang membantu Hamzi dan Midhar ketika mereka berada di California, termasuk Bayoumi dan Thumairy, serta sumber itu sendiri.

Menurut dokumen itu, sumber tersebut mengatakan kepada FBI bahwa Bayoumi, di luar identitas resminya sebagai mahasiswa, memiliki "status yang sangat tinggi" di konsulat Saudi.

"Bantuan Bayoumi untuk Hamzi dan Midhar antara lain penerjemahan, perjalanan, penginapan dan pembiayaan," kata memo itu. Memo itu juga mengatakan bahwa istri sumber FBI itu mengatakan kepada mereka bahwa Bayoumi sering berbicara tentang 'jihad'.

Dan dokumen itu lebih lanjut terhubung dengan pertemuan, panggilan telepon dan komunikasi lainnya, Bayoumi dan Thumairy dengan Anwar al Alaki, ulama kelahiran AS yang menjadi tokoh penting Al-Qaeda sebelum dia terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak di Yaman pada tahun 2011.

Dokumen yang dirilis itu masih disunting secara signifikan dan tidak memberikan hubungan langsung yang jelas antara pemerintah Saudi dan para pembajak.

Dokumen itu dirilis setelah Presiden Joe Biden ditekan oleh anggota keluarga dari mereka yang terbunuh dalam serangan 9/11 yang telah menggugat Arab Saudi atas keterlibatannya.

Tiga pemerintahan AS berturut-turut telah menolak untuk membuka dan merilis dokumen terkait kasus tersebut, tampaknya karena mereka tidak ingin merusak hubungan AS-Saudi.

Jim Kreindler, salah satu pemimpin gugatan tersebut, mengatakan dokumen itu memvalidasi pernyataan kunci gugatan itu bahwa pemerintah Saudi membantu para pembajak.

"Dengan rilis dokumen pertama ini, 20 tahun Arab Saudi mengandalkan pemerintah AS untuk menutupi perannya dalam 9/11 akan berakhir," kata Kreindler dalam sebuah pernyataan.

Keluarga masih mengharapkan bukti yang lebih kuat ketika lebih banyak materi rahasia dirilis dalam enam bulan ke depan, berdasarkan perintah Biden. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT