11 September 2021, 09:55 WIB

Israel Tangkap Dua Militan Palestina yang Kabur dari Penjara


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

DUA militan Palestina yang termasuk di antara enam orang yang menerobos penjara Israel pekan ini ditangkap di puncak bukit di Kota Nazareth, Israel utara pada Jumat (10/9).

Sementara empat militan lainnya masih buron di tengah perburuan besar-besaran oleh pasukan Israel di Israel utara, di mana kota Arab Nazareth berada, dan Tepi Barat yang diduduki.

Enam orang tersebut, yang lima di antaranya adalah anggota kelompok militan pejuang Paletina dan satu dari partai arus utama gerakan Fatah, melarikan diri pada Senin (6/9) pagi dengan membuat terowongan melalui lubang yang berdekatan dengan toilet sel mereka.

Dua pria yang ditangkap di Gunung Precipice adalah anggota Jihad Islam, dan polisi diberi tahu oleh penduduk Nazareth bahwa kedua pria itu meminta makanan, media Israel melaporkan. Polisi tidak memberikan identitas mereka.

Video di media sosial menunjukkan petugas Israel menempatkan dua pria di belakang kendaraan polisi yang terpisah. Kedua pria itu tampaknya tidak melawan saat ditangkap.

Keenam gerilyawan itu telah dinyatakan bersalah atau dicurigai merencanakan atau melakukan serangan mematikan terhadap warga Israel.

Israel berjanji untuk menangkap semua pria tersebut, dan para pejabat mengatakan mereka akan menyelidiki setiap penyimpangan yang memungkinkan mereka melarikan diri.

Warga Palestina menggelar aksi protes di Tepi Barat di Jerusalem Timur, untuk mendukung para pria tersebut, melihat mereka sebagai pahlawan dalam perjuangan mereka untuk menjadi negara bagian di wilayah yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967.

Fasilitas tempat para pria melarikan diri, sekitar 4 km dari perbatasan dengan Tepi Barat yang diduduki, adalah salah satu penjara dengan keamanan tertinggi di Israel.

Para pelarian itu termasuk Zakaria Zubeidi, mantan komandan Brigade Martir Al Aqsa Fatah di Kota Jenin, Tepi Barat, yang pernah menerima amnesti Israel.

Zubeidi ditangkap kembali oleh Israel pada 2019 setelah dugaan keterlibatannya dalam serangan penembakan baru. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT