09 September 2021, 15:26 WIB

Arab Saudi Disarankan Bangun Dialog dalam Perangi Ekstremisme


Mediaindonesia.com | Internasional

PADA 2019, seorang warga Yaman melakukan penusukan selama pertunjukan musik langsung di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Dalam insiden lain tahun itu, seorang pria Saudi menembak dan membunuh tiga orang di pangkalan angkatan laut Florida.

Yasmine Farouk dari Carnegie Endowment for International Peace mengatakan reformasi modern yang dilakukan Pangeran Saudi Mohammed bin Salman sejak menjabat pada 2017 merupakan bentuk Arab Saudi yang baru. Akan tetapi, ia mengingatkan reformasi tidak cukup untuk memberantas ekstremisme, seperti serangan yang terjadi pada 2019.

"Mereka tidak melibatkan dialog dengan masyarakat yang akan membahas argumen ekstremis," katanya. "Dialog merupakan sesuatu yang sangat penting untuk mencapai tujuan dan tidak hanya memaksakan perubahan kepada orang-orang."

Baca juga: Reformasi Modern Saudi Dinilai terkait Trauma Serangan 11 September

Kristin Diwan dari Arab Gulf States Institute di Washington menyatakan bahwa reformasi harus fokus pada sistem pendidikan yang telah lama dikaitkan dengan wahabisme. "Mereformasi seluruh sistem pendidikan--kurikulum, instruktur, institusi--tugas besar yang mirip dengan membangun kembali masyarakat itu sendiri," katanya kepada AFP.

Kerajaan saat ini sedang meninjau buku teks yang menyebut non-Muslim sebagai kufar atau non-Muslim. Kementerian Pendidikan telah mengumumkan sedang mengerjakan kurikulum baru yang mempromosikan nilai-nilai kebebasan berpikir dan toleransi.

Baca juga: Citra Keras Saudi Berakar pada Aliran Wahabi

Pada 2018, Pangeran Mohammed mengatakan kepada televisi CBS bahwa ia bertujuan menghapus semua elemen ekstremis dari sistem pendidikan. Menurutnya, pada sistem tersebut kelompok Islam garis keras dipekerjakan secara luas. "Tidak ada keraguan bahwa niat itu ada, tetapi eksekusi yang efektif akan membutuhkan waktu," kata Diwan. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT