09 September 2021, 14:39 WIB

Citra Keras Saudi Berakar pada Aliran Wahabi


Mediaindonesia.com | Internasional

CITRA keras Arab Saudi berakar pada interpretasi aliran wahabi yang ketat tentang Islam. Doktrin puritan tersebut dituduh diekspor ke seluruh dunia.

Kerajaan, yang menampung tempat paling suci Islam dan merupakan pengekspor minyak terbesar di dunia, pada awalnya menolak tekanan untuk reformasi. Tetapi kebangkitan Pangeran Mohammed bin Salman atau MBS yang dinobatkan sebagai putra mahkota pada 2017 dan kebutuhan untuk melakukan diversifikasi karena permintaan minyak yang melemah telah membawa serangkaian perubahan ekonomi, sosial, dan agama.

Pangeran Mohammed telah berusaha memosisikan dirinya sebagai pembawa Islam 'moderat', bahkan ketika reputasi internasionalnya terpukul dari pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul pada 2018. Larangan yang dikecam keras terhadap wanita mengemudi mobil dicabut pada 2018, konser musik yang mencampur lelaki dengan perempuan sekarang diizinkan, dan bisnis dapat tetap buka selama salat lima waktu.

Baca juga: Arab Saudi Disarankan Bangun Dialog dalam Perangi Ekstremisme

Arab Saudi juga telah mengebiri polisi agama yang pernah ditakuti. Polisi tersebut akan mengusir orang keluar dari mal untuk pergi salat ketika waktunya tiba serta mencaci maki siapa pun yang terlihat berbaur dengan lawan jenis.

Negara Teluk, tujuan jutaan peziarah Muslim setiap tahun, juga membuka pintunya untuk pariwisata nonreligius. "Kerajaan kini tempat yang sangat berbeda dan lebih baik," kata penasihat pemerintah Saudi Ali Shihabi kepada AFP. 

“(Reformasi) telah membongkar struktur dan jaringan Islam radikal di dalam negeri. Teroris yang merencanakan kemarahan yang mirip dengan 9/11 harus pergi ke tempat lain selain kerajaan untuk mencari rekrutan, karena kumpulan pemuda Saudi yang diindoktrinasi dalam Islam reaksioner dengan cepat menyusut."

Baca juga: Reformasi Modern Saudi Dinilai terkait Trauma Serangan 11 September

Namun beberapa orang Saudi memperingatkan bahwa reformasi yang cepat dan menyeluruh membawa risiko serangan balasan. Pasalnya, pihak berwenang terus menindak oposisi atau aktivis mana pun. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT