29 August 2021, 17:20 WIB

Mantan Waketum PBNU Kisahkan Sejarah Taliban Kuasai Afghanistan


Mohamad Farhan Zhuhri | Internasional

MANTAN Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015 KH As'ad Said Ali menceritakan mengenai Taliban yang menguasai Afganistan. Mantan Wakil Kepala BIN tersebut mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut merupakan akumulasi dari peristiwa-peristiwa kecil sebelumnya.

Dia mengungkapkan, sejak 1996, kaum Mujahidin yang kala itu berkuasa sejak 1992 (setelah berhasil mengusir Uni Soviet) belum mampu menangani pemerintahan sampai di tingkat bawah. "Yang berkuasa di bawah (saat itu, adalah) preman-preman kelas berat, penguasa lokal yang tiran, sehingga terjadi dekadensi moral, pemerkosaan, (bahkan) lelaki juga menjadi korban. (Kriminalitas seperti) penjambretan, penodongan (juga terjadi) di tengah jalan," ujar As'ad dikutip dari MUITV,dilansir dari laman MUI.Digital, Minggu (29/8).

Dia menceritakan, pada 1996 Taliban membunuh penguasa (Najibullah). Namun, peristiwa tersebut bukan dianggap sebagai kriminalitas malah mendapatkan dukungan dan dijadikan gerakan nasional, sehingga Taliban berkuasa.

Permasalahan tersebut semakin kompleks, lanjutnya, setelah negara-negara lain ikut campur membantu gerakan tersebut, seperti Pakistan dan Arab Saudi. Kedua negara ini membantu karena pemerintahan demokratis sebelumnya lebih dekat kepada Iran dan India yang notabene yang berseteru dengan Arab Saudi dan Pakistan. Menurutnya, kedua negara ini sampai saat ini masih terlibat dalam dukungan terhadap Afganistan.

"Ya sampai saat ini. Ini fakta ya. Banyak orang tidak mengerti ya. Yang nyuruh (Taliban) ya siapa?" ujarnya.

Saat ini, menurutnya, di Taliban ada tiga kelompok, yakni Akhundzada sebagai pemimpin Taliban sejak 2016, Mullah Omar (Mullah Ghani Baradar), dan garis keras yang cukup ditakuti yaitu Haqqani (Khalil Haqqani). Akhundzada, menurutnya, telah diakui Amerika Serikat dan negara koalisinya sejak 2013. Makanya dia membuat kantor di Doha Qatar.

Dalam penyerbuan Taliban menguasai Afganistan kali ini, menurutnya, dilakukan kelompok Akhyundzada. Dua kelompok lain seperti Mullah Omar dan Haqqani tidak dilibatkan. "Memang masalah Afganistan ini complicated, seperti sebelum-sebelumnya," katanya.

Saat ini, menurutnya, kondisi Afganistan karut marut. Dia mendapat informasi bahwa Amerika Serikat telah membekukan dana untuk Afghanistan. Ekonomi sebelumnya sudah kacau, ditambah peristiwa terbaru ini semakin kacau. "Ya kita lihat bagaimana tiga bulan ke depan nanti," katanya.

Menurutnya, kemenangan Taliban di Afganistan merupakan hasil perundingan dengan Amerika Serikat. Beberapa bulan sebelumnya, Joe Biden memberikan sinyal untuk angkat kaki dan mempersilakan warga Afghanistan menyelesaikan masalah sendiri.

"Teman-teman NU di Afghanistan menyampaikan, kesalahannya ini kenapa (Ashfraf Gani) lari? Mestinya menyerah, dengan menyerahkan status tentara, pegawai negeri, ini diselesaikan dulu. Kalau lari ini menyebabkan chaos seperti ini," katanya. Dia berharap dalam waktu dekat Taliban segera membentuk pemerintahan lebih stabil, untuk mengembalikan kondisi Afghanistan yang semakin terpuruk. (OL-14)

BERITA TERKAIT