29 August 2021, 09:42 WIB

Ratusan Ribu Warga Memprotes Aturan Covid-19 di Prancis


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SEBANYAK 160.000 orang menggelar aksi protes di seluruh Prancis pada Sabtu (28/8). Mereka marah pada sistem izin kesehatan covid-19 negara itu yang dinilai tidak adil membatasi mereka yang tidak divaksinasi.

Pada sore hari pihak berwenang telah mencatat 222 aksi protes terpisah, termasuk 14.500 orang yang muncul di Paris.

Tercata 16 orang ditangkap dan tiga petugas polisi terluka ringan dalam aksi protes covid-19 akhir pekan ketujuh berturut-turut.

"Vaksin bukanlah solusi," kata pensiunan Helene Vierondeels, yang menghadiri protes sayap kanan di Paris.

"Lebih baik kita menghentikan penutupan tempat tidur rumah sakit dan melanjutkan tindakan pembatasan," tambahnya.

Di Bordeaux, beberapa pengunjuk rasa mengatakan mereka menolak untuk memvaksinasi anak-anak mereka, hanya beberapa hari sebelum dimulainya tahun ajaran baru.

"Kami bukan tikus laboratorium," kata seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang sedang berbaris dengan ayahnya.

"Kami hidup di negara bebas, tidak ada angka yang membenarkan vaksinasi massal," kata ayahnya, menyamakan tekanan untuk vaksinasi dengan pemerkosaan.

Di bawah sistem izin covid-19 yang diperkenalkan secara bertahap sejak pertengahan Juli, siapa pun yang ingin memasuki restoran, teater, bioskop, kereta jarak jauh, atau pusat perbelanjaan besar harus menunjukkan bukti vaksinasi atau tes negatif.

Pemerintah menegaskan izin itu diperlukan untuk mendorong vaksinasi dan menghindari penguncian nasional keempat.

Angka keseluruhan hari Sabtu sedikit turun dari 175.000 pengunjuk rasa yang datang akhir pekan sebelumnya.

Sekitar 200.000 orang telah berbaris pada akhir pekan sebelumnya, menurut angka kementerian dalam negeri.

Penyelenggara mengklaim jumlah sebenarnya dua kali lipat dari perkiraan yang diumumkan oleh polisi.

Gerakan protes telah menyatukan teori konspirasi, anti-vaxxers, mantan anggota gerakan anti-pemerintah "Rompi Kuning", serta orang-orang yang khawatir bahwa sistem saat ini secara tidak adil menciptakan masyarakat dua tingkat. (Straitstimes/OL-13)

Baca Juga: Taiwan Batasi Perpindahan Pekerja Migran

BERITA TERKAIT