14 August 2021, 09:46 WIB

Polisi Thailand dan Demonstran Bentrok dalam Aksi Tuntut PM Mundur


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

POLISI Thailand bentrok dengan ratusan demonstran yang menentang larangan berkumpul di pusat kota Bangkok, Thailand.

Bentrok terjadi saat para demonstran berusaha berbaris di kediaman Perdana Menteri (PM) Jenderal Prayuth Chan-O-Cha dalam aksi menuntut pengunduran Prayuth karena gagal mengatasi krisis virus korona di negara itu.

Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet dari jalan raya yang ditinggikan sebagai tanggapan terhadap demonstran yang mencoba menurunkan kontainer yang digunakan sebagai penghalang jalan dalam aksi unjuk rasa hari ketiga pekan ini.

Aktivis dari kelompok Thalufah yang dipimpin pemuda telah berjanji untuk memprotes secara damai. Namun polisi tetap membubarkan unjuk rasa dengan melepaskan gas air mata dan peluru karet terhada para demonstran.

"Prayuth, keluar!" teriak para pengunjuk rasa saat mereka memulai pawai dari Monumen Kemenangan Bangkok pada Jumat (13/8) sore hari.

Para demonstran menyalahkan Jenderal Prayuth yang dinilai keliru dan gagal dalam mengatasi pandemi Covid-19. Bahkan pada Jumat (13/8), kasus Covid-19 di Thailand kembali mengalami lonjakan.

"Pengelolaan Covid-19 yang gagal oleh pemerintah telah menyebabkan warga mati. Hari ini kami di sini untuk menyingkirkan Prayuth," kata aktivis Songpon "Yajai" Sonthirak di awal aksi.

Dengan alasan peratusan protokol kesehatan, aparat keamanan memperingatkan segala bentuk demonstrasi yang turun ke jalan. Bahkan aparat keaman telah melakukan penangkapan dan tercatat 300 kasus pelanggaran peraturan penanganan Covid-19. 

"Tujuan polisi adalah untuk menjaga perdamaian," kata kepala polisi Bangkok Pakapong Pongpetra kepada wartawan.

"Mereka yang bergabung dalam protes berisiko terinfeksi dan juga melanggar undang-undang lain," imbuhnya.

Gerakan protes yang dipimpin pemuda Thailand, yang mendapat dukungan luas telah berlangsung selama berbulan-bulan sebagaiaman terjadi tahun lalu.

Unjuk rasa kembali muncul seiring dengan kegagal PM Prayuth Chan-O-Cha dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Untuk mereadam aksi unjuk rasa, sejumlah ketua unjuk rasa telah ditangkap dan siap diadili dengan tuduhan melakukan penghasutan, kerusuhan, dan pelanggaran aturan. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT