05 August 2021, 08:27 WIB

Puluhan Orang Terluka dalam Bentrokan saat Peringatan Ledakan Beirut


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PULUHAN orang terluka akibat bentrokan antara polisi Libanon dengan pengunjuk rasa yang menuntut pertanggungjawaban atas ledakan di pelabuhan Beirut, tahun lalu. Peristiwa itu terjadi tidak jauh dari acara utama yang menandai peringatan tragedi tersebut.

Bentrokan di Beirut pecah antara polisi antihuru hara dan pengunjuk rasa yang melempar batu, menyalakan api dan mencoba menyerbu markas parlemen, yang anggotanya dituduh menunda penyelidikan atas bencana tersebut.

Polisi antihuru hara menanggapi dengan menembakkan gas air mata, peluru karet, dan meriam air, serta mendesak pemrotes damai untuk pergi.

Baca juga: Taliban Peringatkan Serangan Berikutnya pada Para Pemimpin Afghanistan

"Mengingat serangan berulang kali terhadap anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri, kami akan menggunakan cara yang sah dan proporsional terhadap demonstran yang tidak damai," kata polisi dalam sebuah pernyataan, Rabu (5/8).

Tidak lama kemudian, televisi Libanon muncul menunjukkan sebuah tank bergerak ke daerah itu.

Palang Merah, yang mengirim 21 ambulans dan 100 paramedis, mengatakan telah mengangkut delapan orang ke rumah sakit dan telah merawat puluhan lainnya di tempat.

Di dekatnya, beberapa ratus meter jauhnya di pelabuhan, ribuan orang berkumpul memperingati satu tahun ledakan yang menewaskan sedikitnya 214 orang.

Korban selamat dan kerabat korban ledakan membawa bendera dan potret korban tewas, saat doa dan lagu sedih terdengar di tengah kesedihan dan kemarahan.

Tidak ada laporan kekerasan yang terjadi di sana.

Setahun lalu, setelah pukul 18.00 pada 4 Agustus 2020, stok pupuk amonium nitrat yang disimpan sembarangan di pelabuhan kota itu meledak dan membuat sebagian besar ibu kota Lebanon tampak seperti zona perang.

Satu tahun berlalu, tidak ada pejabat senior yang dimintai pertanggungjawaban. Investigasi lokal belum menghasilkan penangkapan besar atau bahkan mengidentifikasi pelakunya, dengan para pemimpin politik secara luas dituduh menghalangi keadilan. (Straitstimes/OL-1)

BERITA TERKAIT