03 August 2021, 15:28 WIB

Puluhan Jenazah Mengambang di Sungai antara Tigray Ethiopia dan Sudan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SEORANG pejabat Sudan mengatakan pihak berwenang setempat di Provinsi Kassala telah menemukan sekitar 50 jenazah mengambang di sungai antarnegara selama seminggu terakhir. Mereka diduga orang-orang yang melarikan diri dari perang di wilayah Tigray, Ethiopia.

Beberapa jenazah ditemukan dengan luka tembak atau tangan terikat. Pejabat itu mengatakan pada Senin bahwa penyelidikan forensik diperlukan untuk menentukan penyebab kematian. Pejabat itu berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk memberi pengarahan kepada media.

Dua petugas kesehatan Ethiopia di komunitas Hamdayet di perbatasan Sudan membenarkan melihat jenazah-jenazah itu ditemukan di sungai Setit yang dikenal di Ethiopia sebagai Tekeze. Sungai itu mengalir melalui beberapa daerah yang paling bermasalah dari konflik sembilan bulan di Tigray. Etnis Tigray menuduh pasukan Ethiopia dan sekutu melakukan kekejaman saat memerangi pasukan Tigray.

Tewodros Tefera, seorang ahli bedah yang melarikan diri dari kota dekat Tigray Humera ke Sudan, mengatakan bahwa dua jenazah ditemukan pada Senin yakni pria dengan tangan terikat dan wanita dengan luka di dada. Dia mengungkapkan bahwa rekan-rekan pengungsi telah mengubur setidaknya 10 jenazah lain.

Dia membagikan video pria yang muncul untuk menyiapkan kain kafan bagi tubuh yang mengambang telungkup di sungai. Tewodros mengatakan jenazah-jenazah itu ditemukan di hilir Humera. Pihak berwenang dan pejuang sekutu dari wilayah Amhara Ethiopia telah dituduh oleh para pengungsi karena memaksa Tigrayans lokal selama perang sementara mengklaim bahwa Tigray barat adalah tanah mereka.

"Kami sebenarnya merawat jenazah yang ditemukan nelayan," kata Tewodros. "Saya menduga ada lebih banyak jenazah di sungai," imbuhnya.

Meskipun sulit untuk mengidentifikasi mayat-mayat itu, seseorang memiliki nama yang umum dalam bahasa Tigray, Tigrinya, ditato di lengannya, menurut ahli bedah. Dokter lain yang bekerja di Hamdayet yang melihat mayat-mayat itu mengatakan bahwa beberapa mayat memiliki tanda wajah yang menunjukkan bahwa mereka ialah etnis Tigrayan.

"Saya melihat banyak hal yang biadab," kata dokter yang berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk berbicara kepada wartawan. "Beberapa telah disambar kapak," tambahnya. Dokter menuturkan, saksi di sungai mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak dapat menangkap semua jenazah yang mengambang di hilir karena aliran air yang deras selama musim hujan. 

Suatu akun Twitter buatan pemerintah Ethiopia pada Senin menyebut laporan jenazah tersebut sebagai kampanye palsu oleh propagandis di antara pasukan Tigray. Pertempuran di Tigray pecah pada November antara pasukan federal Ethiopia dan partai yang berkuasa di kawasan itu, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, mengatakan pasukannya pindah ke wilayah itu sebagai tanggapan atas serangan TPLF di kamp-kamp tentara federal. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan membuat puluhan ribu orang melarikan diri ke negara tetangga Sudan.

Administrator Badan Pembangunan Internasional AS, Samantha Power, pada Senin mengunjungi kamp pengungsi di Sudan yang menampung ribuan orang Ethiopia yang melarikan diri dari perang Tigray. Dia selanjutnya akan mengunjungi Ethiopia untuk menekan pemerintah agar mengizinkan bantuan kemanusiaan ke Tigray, wilayah berpenduduk sekitar 6 juta orang saat krisis kelaparan terburuk di dunia dalam satu dekade sedang berlangsung. AS mengatakan hingga 900.000 orang sekarang menghadapi kondisi kelaparan.

Baca juga: Sekitar 350 Ribu Orang di Tigray Ethiopia dalam Kondisi Kelaparan

Badan pangan PBB mengatakan sedang bekerja untuk menyediakan makanan ke Tigray melalui Sudan meskipun ada hubungan yang renggang antara Khartoum dan Addis Ababa. "Negosiasi untuk mengakses wilayah Tigray yang diblokir terbukti cukup sulit," kata Marianne Ward, wakil direktur negara Program Pangan Dunia (WFP) di Sudan. Dia mengatakan WFP telah memindahkan 50.000 ton gandum ke Ethiopia melalui Sudan. (The Guardian/OL-14)

BERITA TERKAIT