01 August 2021, 10:34 WIB

Warga Israel Unjuk Rasa Tolak Pembatasan Akibat Covid-19


Nur Aivanni | Internasional

RATUSAN orang Israel berdemonstrasi pada Sabtu (31/7) di Tel Aviv, Israel, menentang pembatasan baru akibat virus korona dan vaksinasi ketika kasus positif dan pasien rawat inap meningkat dalam beberapa bulan.

Kementerian Kesehatan Israel, pada Sabtu (31/7), melaporkan bahwa 2.435 kasus baru akibat Covid-19 telah dicatat sehari sebelumnya. Itu merupakan jumlah tertinggi sejak Maret, yang didorong oleh varian Delta yang lebih menular.

Ada 326 pasien rawat inap, tertinggi sejak April, meskipun angkanya berada jauh di bawah saat puncaknya pada Januari, ketika lebih dari 2.000 orang dirawat di rumah sakit setiap hari.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel meluncurkan suntikan booster vaksin untuk warga lanjut usia, menerapkan kembali penggunaan masker di dalam ruangan dan menerapkan kembali pembatasan di mana sertifikat vaksin diperlukan untuk memasuki ruang tertutup, seperti gym, restoran, dan hotel.

Peningkatan infeksi adalah langkah mundur setelah kampanye vaksin Israel menurunkan kasus baru akibat covid-19 dari 10.000 per hari menjadi kurang dari 100.

Para pengunjuk rasa mengibarkan spanduk yang bertuliskan, "Tidak ada pandemi, itu tipuan". Mereka mengangkat plakat yang mencela vaksin virus korona, dengan satu poster yang menghubungkan vaksin dengan Nazi.

Menteri Kesehatan Israel Nitzan Horowitz, pada Sabtu (31/7), mengatakan kepada stasiun TV Israel Channel 12 bahwa dia bermaksud untuk menyeimbangkan kesehatan masyarakat dengan mata pencaharian. "Ekonomi harus tetap terbuka," katanya.

"Saya tidak ingin memberlakukan lockdown dan saya akan menghindari lockdown dengan cara apa pun. Semuanya terbuka - tetapi kita membutuhkan masker dan kita membutuhkan vaksin," ucapnya.

Hampir 60% dari 9,3 juta orang Israel mendapatkan dua suntikan, sebagian besar dengan vaksin Pfizer/BioNTech.

Tetapi sekitar satu juta orang Israel masih menolak untuk divaksinasi meskipun mereka memenuhi syarat.

Mulai Minggu (1/8), beberapa anak berusia antara lima dan 11 tahun yang berisiko mengalami komplikasi kesehatan akan memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT