27 July 2021, 07:04 WIB

Biden Umumkan Berakhirnya Operasi Tempur AS di Irak


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN AS Joe Biden menyatakan hubungan AS dengan Irak akan memasuki fase baru dengan pasukan Amerika keluar dari operasi tempur di negara itu pada akhir tahun. Hal itu mengemuka dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhemi, Senin waktu setempat.

Di tengah ancaman kebangkitan ISIS dan pengaruh kuat Iran di Baghdad, Biden menekankan bahwa Washington tetap berkomitmen pada kerja sama keamanan kedua negara. Sementara itu, Kadhemi menegaskan kembali kemitraan strategis antara AS dan Irak.

Dikatakan Biden, pasukan AS di Irak akan terus melatih, membantu dan menghadapi ISIS saat muncul. Namun, dalam pergeseran yang terjadi saat Amerika Serikat menarik diri dari Afghanistan, pemimpin AS itu menegaskan bahwa 2.500 tentara AS yang masih berada di Irak tidak akan berperang.

"Kami tidak akan berada, pada akhir tahun, dalam misi tempur," katanya.

Setelah 18 tahun AS menginvasi Irak untuk menyingkirkan Saddam Hussein, dan tujuh tahun setelah koalisi pimpinan AS memerangi ekstremis ISIS yang mengancam negara, Washington mengalihkan fokusnya ke jenis bantuan lain.

Dikatakan akan membantu memperkuat pasokan tenaga listrik, memerangi covid-19, menghadapi dampak perubahan iklim, dan mendukung pengembangan sektor swasta.

Biden mengatakan kepada Kadhemi di Gedung Putih bahwa sekitar 500.000 dosis vaksin virus korona yang dijanjikan ke Baghdad akan ada di sana dalam beberapa minggu.

Biden juga menekankan dukungan AS untuk pemilu pada Oktober di Irak. Washington, katanya, bekerja sama dengan Baghdad, Dewan Kerja Sama Teluk dan PBB untuk memastikan pemilu berlangsung adil.

"Kami mendukung penguatan demokrasi Irak dan kami ingin memastikan pemilu tetap berjalan," katanya.

Kadhemi mengatakan dia berada di Washington untuk membahas masa depan bangsa. "Amerika, mereka membantu Irak. Bersama-sama kita berjuang, melawan dan mengalahkan ISIS," katanya. "Hari ini, hubungan kami lebih kuat dari sebelumnya -- kemitraan kami di bidang ekonomi, lingkungan, kesehatan, pendidikan, budaya, dan banyak lagi," tuturnya.

Pertemuan tatap muka tersebut, kata para analis, adalah untuk memberikan dukungan dan perlindungan kepada Kadhemi, yang berkuasa selama kurang lebih satu tahun dan di bawah tekanan dari faksi politik sekutu Iran untuk mendorong pasukan AS dari negaranya.

Seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya memuji Kadhemi karena bersikap pragmatis. "Dan menjadi pemecah masalah daripada seseorang yang mencoba menggunakan masalah untuk kepentingan politiknya sendiri," ungkapnya. (AFP/OL-13)

Baca Juga: Pink Tawari Bayari Denda yang Diterima Tim Bola Tangan Pantai Norwegia karena Menolak Pakai Bikini

BERITA TERKAIT