22 July 2021, 08:59 WIB

Saudi Aramco Konfirmasi Kebocoran Data


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SAUDI Aramco mengonfirmasi beberapa file perusahaan bocor setelah peretas dilaporkan meminta uang tebusan US$50 juta dari produsen minyak paling berharga di dunia itu.

"Aramco baru-baru ini mengetahui rilis tidak langsung dari sejumlah data perusahaan terbatas yang dipegang oleh kontraktor pihak ketiga," kata perusahaan minyak Timur Tengah itu pada Rabu (21/7) dalam sebuah email.

"Kami mengonfirmasi rilis data bukan karena pelanggaran sistem kami, tidak berdampak pada operasi kami dan perusahaan terus mempertahankan postur keamanan siber yang kuat,” imbuhnya.

Associated Press melaporkan sebelumnya, satu terabyte data Minyak Arab Saudi telah dipegang oleh seorang pemeras, mengutip halaman web yang diaksesnya di darknet.

Pengebor milik negara itu ditawari kesempatan untuk menghapus data senilai US$50 juta dalam cryptocurrency. Industri energi global telah melihat peningkatan serangan siber dengan Colonial Pipeline menjadi yang paling terlihat akhir-akhir ini.

Industri minyak dan gas, yang mencakup perusahaan yang memiliki sumur, jaringan pipa dan kilang, telah lama menjadi lamban dalam pengeluaran keamanan, menurut konsultan.

Baca juga: Saudi Aramco Raup Rp85 Triliun dari Jual Obligasi Syariah Perdana

Pada 2012, Arab Saudi menyalahkan orang tak dikenal yang berbasis di luar kerajaan atas peretasan terhadap raksasa minyak yang bertujuan mengganggu produksi dari pengekspor minyak mentah terbesar di dunia itu.

Serangan yang disebut "spear-phishing" itu menghancurkan lebih dari 30.000 komputer dalam beberapa jam. Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri menolak untuk mengidentifikasi salah satu dari beberapa negara asing dari mana serangan itu berasal.

Timur Tengah sebelumnya telah menjadi magnet bagi beberapa peretasan termahal di dunia, kata PricewaterhouseCoopers dalam sebuah laporan tahun 2016.

Perusahaan energi dari utilitas listrik, hingga operator jaringan listrik hingga operator pipa telah memperingatkan bahwa serangan siber menjadi semakin umum. Operator jaringan listrik terbesar AS, PJM Interconnection, telah memperingatkan regulator bahwa mereka menghadapi serangan yang meningkat.(Straitstimes/OL-5)

BERITA TERKAIT