21 July 2021, 16:57 WIB

AS, Jepang dan Korsel Kirim Pesan ke Korut Soal Nuklir


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

AMERIKA Serikat (AS), Jepang, dan Korea Selatan mengirimkan pesan terkait koordinasi kebijakan terhadap sikap Korea Utara.

"Koordinasi yang erat itu mengirimkan pesan yang sangat penting ke Korea Utara. Bahwa, kami bersama-sama dalam pendekatan terhadap kebijakan ini," ujar Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman kepada wartawan, Rabu (21/7).

Pembicaraan tiga arah berlangsung di Tokyo, meski hubungan antara Jepang dan Korea Selatan menjadi tegang. Sebagian besar merupakan akibat dari tuduhan kedua belah pihak, yang berasal dari pemerintahan kolonial Jepang pada 1910 hingga 1945 di Korea.

Baca juga: Korea Utara: Penyataan Biden Tunjukkan Kebijakan Permusuhan

Babak baru perselisihan bersejarah yang meledak pada 2019 menghantam perdagangan antara negara tetangga tersebut. Serta, mengancam kerja sama terkait keamanan dalam menghadapi risiko dari Korea Utara dan program nuklirnya.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in belum lama ini memutuskan tidak mengunjungi Olimpiade Tokyo. Padahal itu, biasa menjadi pertemuan puncak pertamanya dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.

Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Takeo Mori menyebut kerja sama trilateral dengan AS sangat penting untuk denuklirisasi Korea Utara. "Langkah Korea Utara selanjutnya tidak dapat diprediksi," tutur Mori.

Baca juga: AS-Korsel Kerja Sama Menuju Denuklirisasi Semenanjung Korea

Korea Utara diketahui menolak permohonan AS untuk diplomasi, sejak Presiden AS Joe Biden mengambil alih jabatan dari Donald Trump. Sebelumnya, Trump telah mengadakan tiga pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang meningkatkan harapan terkait terobosan.

Adapun Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Choi Jung-kun menggambarkan masalah nuklir Korea Utara sebagai "permainan panjang" yang membutuhkan kesabaran. Diplomat senior dari Jepang dan Korea Selatan menegaskan kembali bahwa negara mereka akan melanjutkan dialog untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan.(CNA/OL-11)

 

BERITA TERKAIT