20 July 2021, 13:23 WIB

Myanmar Targetkan 50% dari Populasi Divaksin Covid-19 Tahun ini


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

KEMENTERIAN Kesehatan yang dikendalikan militer Myanmar memperkirakan setengah dari populasi akan divaksinasi terhadap cCvid-19 tahun ini, menurut laporan media pemerintah pada Selasa (20/7), sehari setelah pihak berwenang mengumumkan rekor penambahan kematian akibat virus korona.

Target inokulasi datang ketika upaya Myanmar untuk menahan peningkatan infeksi dikacaukan oleh gejolak sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari 2021.

Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa hanya sekitar 1,6 juta orang telah diinokulasi dari populasi 54 juta, tetapi menuturkan bahwa vaksin Covid-19 terus diimpor untuk memastikan bahwa 100% populasi divaksinasi sepenuhnya"

Laporan itu mengatakan bahwa sekitar 750.000 dosis vaksin Tiongkok akan tiba pada hari Kamis (22/7) dan lebih banyak lagi akan tiba selama dua hari berikutnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan dalam sebuah laporan pada hari Senin (19/7) bahwa pihaknya meningkatkan upaya untuk memerangi lonjakan yang mengkhawatirkan dalam kasus Covid-19.

PBB mengharapkan Myanmar menerima cukup vaksin melalui fasilitas Covax tahun ini untuk 20% dari populasi.

Myanmar mencatat rekor 281 kematian Covid-19 pada hari Senin (19/7), dan 5.189 infeksi baru, MRTV Television yang dikelola pemerintah melaporkan, mengutip angka kementerian kesehatan.

Tetapi petugas medis dan layanan pemakaman mengatakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka pemerintah militer, dan krematorium menghadapi kelebihan beban.

Menggambarkan tingkat penyebaran virus, Tiongkok pada Selasa (20/7) melaporkan penambahan infeksi baru harian tertinggi sejak Januari, sebagian besar terkait dengan warga negara Tiongkok yang kembali ke provinsi Yunnan dari Myanmar.

Zaw Wai Soe, Menteri Kesehatan Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), yang dibentuk sebagai pemerintahan bayangan oleh penentang kekuasaan tentara, dikutip oleh situs web RFA (Radio Free Asia) mengatakan bahwa hingga 400.000 jiwa bisa hilang jika tindakan cepat tidak diambil untuk memperlambat infeksi.

Para pengkritik junta juga mengatakan banyak nyawa telah hilang karena pembatasannya pada beberapa pemasok oksigen swasta atas nama penghentian penimbunan.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan atau juru bicara junta tidak dapat dihubungi saat dimintai komentar terkait wabah tersebut dan tanggapannya. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT