17 July 2021, 23:49 WIB

Saudi Kini Izinkan Bisnis Tetap Buka saat Waktu Salat Tiba


Mediaindonesia.com | Internasional

ARAB Saudi secara resmi mengizinkan bisnis untuk tetap buka selama waktu salat lima waktu. Ini tergolong reformasi yang sangat sensitif di kerajaan yang berusaha menghilangkan citra kerasnya.

Sejak menjadi pemimpin de facto pada 2017, Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah memperkenalkan perubahan ekonomi dan sosial yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan kerajaan pada minyak dan mengatur ulang peran agama. "Toko dan kegiatan komersial serta ekonomi lain akan tetap buka sepanjang hari kerja, terutama selama jam (salat)," kata Federasi Kamar Saudi dalam pernyataan Jumat (16/7) malam.

Secara resmi, keputusan itu merupakan bagian dari perang melawan pandemi virus korona dan bertujuan menghindari antrean panjang di depan toko yang tutup selama jam salat. Namun, itu muncul setelah keputusan pada 2019 yang mengatakan bisnis dapat tetap buka 24 jam sehari dengan biaya yang tidak ditentukan.

Langkah tersebut, yang memicu kebingungan bahwa itu termasuk waktu salat atau tidak, dilihat oleh beberapa orang sebagai percobaan pelonggaran aturan. Sejak itu, beberapa restoran, supermarket, dan toko lain tetap buka, terutama di ibu kota Riyadh.

Baca juga: Iran Waspada Kebangkitan Taliban di Afghanistan
 

Sebelumnya, setelah salat Subuh, mereka diwajibkan untuk tutup usaha selama waktu empat salat lain. Ini membuat para pekerja tidak dapat bekerja selama total sekitar dua jam di satu-satunya negara yang menutup bisnis selama waktu salat wajib dalam dunia Islam.

Menurut anggota penasihat Dewan Syura, pembatasan itu merugikan ekonomi Saudi puluhan miliar riyal per tahun.
Sementara reformasi pemerintah telah menarik sedikit kritik publik di tengah tindakan keras yang menyertainya terhadap perbedaan pendapat, masalah ini tetap sangat sensitif di kerajaan sampai beberapa tahun yang lalu. 

Pasalnya, dulu polisi agama menimbulkan ketakutan dengan menegakkan aturan tersebut. Penjaga moralitas publik, yang dulu terkenal suka mengejar pria dan wanita keluar dari mal untuk mencaci maki siapa pun yang terlihat berbaur dengan lawan jenis, sekarang sebagian besar tidak terlihat.

Namun, para pengamat mengatakan bahwa pihak berwenang masih mengawasi dengan hati-hati kemungkinan serangan balik dari kaum konservatif. Arab Saudi, rumah bagi situs-situs Muslim paling suci, telah lama dikaitkan dengan cabang Islam kaku yang dikenal yakni Wahhabisme.

Baca juga: Nasib Istri Pertama akibat Nikah Misyar di Saudi
 

Namun Pangeran Mohammed telah berusaha untuk memosisikan dirinya sebagai tokoh Islam moderat, bahkan ketika reputasi internasionalnya terpukul akibat peristiwa pembunuhan pada 2018 terhadap jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, di konsulat Saudi di Istanbul. Ketika kekuasaan ulama berkurang, para pengkhotbah mendukung keputusan pemerintah yang pernah mereka lawan dengan keras termasuk mengizinkan perempuan mengemudi dan membuka kembali bioskop. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT