14 July 2021, 17:58 WIB

Krisis Ekonomi, Sebagian Besar Wanita Libanon Sulit Beli Pembalut


Mediaindonesia.com | Internasional

TIGA perempat perempuan di Libanon berjuang untuk membeli persediaan menstruasi di tengah krisis ekonomi yang semakin parah. Ini akhirnya memaksa mereka menggunakan alternatif yang tidak praktis atau tidak aman, kelompok nonpemerintah mengatakan, Rabu (14/7).

"Sekitar 76,5% perempuan dan anak perempuan yang tinggal di Libanon mengalami lebih banyak kesulitan dalam mengakses produk karena kenaikan tajam harga selama setahun terakhir," ujar kelompok Fe-Male dan Plan International dalam temuan lewat surveinya. Saat Libanon berjuang melawan krisis keuangan terburuk dalam sejarah, harga sebagian besar pembalut yang diimpor telah melonjak.

Wanita dan anak perempuan dipaksa untuk membeli pembalut menstruasi yang lebih murah, memakainya lebih lama, atau bahkan menggantinya sama sekali dengan tisu, tekstil lain, atau popok bayi yang dipotong. Survei terhadap 1.800 wanita dan anak perempuan dari komunitas Libanon, Suriah, dan Palestina di negara itu menemukan bahwa mekanisme koping ini berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Hingga 36% responden pernah mengalami iritasi atau infeksi karena kurangnya akses terhadap produk-produk kebersihan kewanitaan yang tepat. Lebih dari 35%, sebagian besar responden lebih muda, mengatakan menstruasi mereka telah mencegah mereka mencapai potensi penuh mereka atau terlibat dalam kegiatan sehari-hari.

Seorang siswi sekolah mengatakan kepada kelompok Libanon Fe-Male bahwa keluarganya tidak mampu membeli pembalut sehingga dia menggunakan selembar kain dan melewatkan beberapa hari sekolah setiap bulan. Kedua kelompok nonpemerintah menyerukan diskusi publik yang lebih luas tentang kemiskinan dan hak untuk mengakses pasokan sanitasi yang aman.

"Menstruasi bukanlah pilihan tetapi realitas biologis dan akses ke produk siklus menstruasi ialah hak asasi manusia," kata Lama Naga dari Plan International.

Alia Awada, co-director Fe-Male, mengatakan meningkatkan kesadaran itu sangat penting karena perempuan sering enggan membahas topik tersebut. "Perempuan dan anak perempuan tidak banyak berbicara tentang kebutuhan ini dan ini adalah salah satu alasan kemiskinan," katanya. Tetap diam tentang hal itu mengarah pada menghadapinya sendiri dan menggunakan alternatif yang mungkin tidak sehat. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT