12 July 2021, 10:47 WIB

Kabul Minta Eropa Hentikan Deportasi Paksa Warga Afghanistan


Nur Aivanni | Internasional

AFGHANISTAN mendesak negara-negara Eropa untuk menghentikan deportasi paksa para migran Afghanistan selama tiga bulan ke depan, ketika pasukan keamanan memerangi gelombang kekerasan yang dipicu serangan Taliban.

PBB, Minggu (11/7), mengatakan konflik yang meningkat juga menyebabkan lebih banyak penderitaan di seluruh negara yang dilanda kekerasan itu.

Afghanistan menghadapi krisis ketika pemberontak merebut wilayah di pedesaan, meregangkan pasukan pemerintah dan menyebabkan gelombang baru keluarga pengungsi, yang diperumit oleh wabah baru covid-19.

Baca juga: Israel Pangkas Uang Palestina Sebagai Balasan Aksi Teror

"Eskalasi kekerasan oleh kelompok teroris Taliban di negara itu dan penyebaran gelombang ketiga (covid-19) telah menyebabkan banyak kerusuhan ekonomi dan sosial, menciptakan kekhawatiran dan tantangan bagi rakyat," kata Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Afghanistan dalam sebuah pernyataan, Sabtu (10/7).

"Keputusan pemerintah menekankan bahwa negara tuan rumah harus menahan diri dari mendeportasi paksa pengungsi Afghanistan selama tiga bulan ke depan," kata kementerian itu.

Dikatakannya, kembalinya warga Afghanistan dari Eropa mengkhawatirkan.

Ada hampir 2,5 juta pengungsi tercatat dari Afghanistan pada 2018, populasi pengungsi terbesar kedua di dunia, menurut badan pengungsi PBB. Sebagian besar dari mereka berada di negara Pakistan, kemudian diikuti Iran dan Eropa.

Sementara itu, lebih dari 570 pengungsi Afghanistan secara sukarela kembali ke negara itu antara Januari dan Maret tahun ini, dengan bantuan PBB. Hanya enam yang datang dari luar Pakistan dan Iran, menurut data dari badan pengungsi PBB.

Warga Afghanistan merupakan bagian yang cukup besar dari pencari suaka di Uni Eropa, dengan 44.190 aplikasi pertama kali tahun lalu, dari total 416.600, menurut Eurostat, badan statistik Uni Eropa.

Bulan lalu, Perdana Menteri Italia Mario Draghi mengatakan Eropa harus bersiap untuk arus masuk baru migran dari Afghanistan setelah pasukan asing meninggalkan negara itu.

Tahun ini, beberapa negara Uni Eropa setuju menawarkan suaka kepada warga Afghanistan yang bekerja dengan pasukan asing dan menghadapi risiko serangan balasan dari Taliban.

Afghanistan mencatat lebih dari 1.000 kasus covid-19 pada Minggu (11/7), kata kementerian kesehatan. Hampir 135.000 kasus dan lebih dari 5.700 kematian telah dilaporkan sejak pandemi dimulai.

Deputi Perwakilan Khusus PBB untuk Afghanistan, Ramiz Alakbarov, mengatakan negara itu juga menghadapi peningkatan kesulitan dengan konflik yang berkembang sejak Taliban melancarkan serangan. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT