06 July 2021, 19:48 WIB

Angkat Bendera Putih, PM Libanon Minta Bantuan Dana Dunia


Mediaindonesia.com | Internasional

PERDANA Menteri sementara Libanon Hassan Diab pada Selasa (6/7) mendesak para negara donor untuk menyelamatkan negara itu. Masalahnya, ia tidak memiliki pemerintahan formal yang tengah berjuang melalui krisis ekonomi yang mengerikan.

Ia mengingatkan bahwa hanya beberapa hari lagi akan terjadi ledakan sosial di Libanon. Diab mendesak masyarakat internasional untuk membantu menyelamatkan Libanon dari kematian. Dia mendesak donor asing untuk mengucurkan bantuan keuangan. Negara tersebut telah gagal membentuk pemerintahan baru dalam hampir 11 bulan.

"Memberikan bantuan ke Libanon dengan formasi pemerintah sekarang mulai mengancam kehidupan warga Libanon," kata Diab dalam pertemuan di Beirut dengan utusan asing.

Menahan dana, menurutnya, "Tidak memengaruhi para koruptor. Justru rakyat Libanon yang membayar mahal," katanya. "Selamatkan Libanon sebelum terlambat."

Libanon bergulat dengan devaluasi mata uang sejak lama yang menyebabkan krisis keuangan. Negara itu pun terjun lebih dalam yang disebut Bank Dunia sebagai salah satu krisis ekonomi terburuk di dunia sejak 1850-an.

Komunitas internasional telah menjanjikan bantuan kemanusiaan. Tapi para negara donor mengondisikan bantuan keuangan dengan pembentukan kabinet baru untuk meluncurkan reformasi.

Namun terlepas dari tekanan internasional, yang dipimpin oleh bekas kekuatan kolonial Prancis, elite politik yang terpecah tidak dapat menyepakati susunan kabinet selama hampir 11 bulan.

Diab mengundurkan diri dan menjabat sebagai perdana menteri sementara sejak ledakan mematikan di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus lalu, ketika ratusan ton pupuk amonium nitrat meledak dan menewaskan lebih dari 200 orang dan merusak sebagian besar ibu kota.

Bencana itu membanjiri rumah sakit Beirut di tengah pandemi virus korona baru. Pada bulan-bulan sejak itu, krisis ekonomi yang dimulai pada musim gugur 2019 memicu protes jalanan massal semakin meluas.

Pound Libanon telah kehilangan lebih dari 90% nilainya terhadap dolar AS di pasar gelap. Cadangan mata uang asing yang merosot telah menyebabkan antrean panjang di luar SPBU dan obat-obatan impor yang habis.

 

"Libanon sedang melewati terowongan yang sangat gelap dan penderitaan telah mencapai tragedi," kata Diab. Donatur asing telah menjanjikan jutaan dolar bantuan kepada rakyat Libanon di dua konferensi internasional, tetapi berhenti menawarkan bantuan apa pun kepada negara Libanon. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT